Bencana tanah longsor menutup sebagian ruas Jalan Lintas Sumatra di Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, pada Minggu (30/8/2026) pagi. Longsoran terjadi di Kilometer 87 ruas jalan Curup–Kepahiang, tepatnya di Desa Tebat Monok, setelah diguyur hujan dengan intensitas tinggi semalaman. Material tanah dan bebatuan dengan volume diperkirakan mencapai 500 meter kubik menutupi dua lajur jalan sepanjang 50 meter, membuat akses transportasi dari dan menuju Kota Bengkulu terputus total. Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Provinsi Bengkulu segera mengerahkan alat berat untuk melakukan pekerjaan pembersihan. Proses evakuasi material diperkirakan memakan waktu minimal 24 jam mengingat volume yang besar dan kondisi lereng yang masih labil.
Dampak terhadap Arus Logistik dan Transportasi
Peristiwa longsor ini mengakibatkan gangguan signifikan pada arus logistik di wilayah Bengkulu. Pengalihan lalu lintas dilakukan melalui jalur alternatif yang lebih panjang, yaitu melewati Kecamatan Pondok Kelapa, sehingga menambah waktu tempuh dan biaya distribusi barang. Berdasarkan laporan dari BPBD Bengkulu Tengah, distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan sembako ke sejumlah daerah di Bengkulu mengalami keterlambatan. Hingga Senin (31/8) pagi, arus kendaraan dari Kota Bengkulu menuju arah Curup dan sebaliknya masih dialihkan. Data kerawanan infrastruktur transportasi di wilayah ini meliputi:
- Ruas Jalan Lintas Sumatra: titik rawan longsor tersebar di segmen Curup–Kepahiang, terutama di Desa Tebat Monok dan sekitarnya.
- Volume material longsor: 500 meter kubik, dengan panjang material menutupi 50 meter.
- Durasi gangguan: minimal 24 jam untuk pembersihan, dengan potensi perpanjangan jika lereng kembali labil.
- Jalur alternatif: Kecamatan Pondok Kelapa, menambah waktu tempuh sekitar 1–2 jam.
Kerentanan Infrastruktur dan Langkah Mitigasi
Longsor di jalur nasional ini kembali menyoroti kerentanan infrastruktur transportasi di Sumatra terhadap ancaman geologi dan hidrometeorologi. Hujan deras yang mengguyur semalaman menjadi pemicu utama, sementara kondisi lereng yang curam dan minimnya retaining wall memperparah risiko. BPBD Bengkulu Tengah telah memasang rambu peringatan dan melakukan monitoring intensif di titik rawan longsor lainnya di sepanjang jalur tersebut. Kepala DPUPR Provinsi Bengkulu menekankan perlunya percepatan program normalisasi lereng dan pembangunan dinding penahan tanah di segmen-segmen rawan. Langkah-langkah mitigasi yang direkomendasikan meliputi:
- Pemetaan kerawanan longsor berbasis data geologi dan hidrometeorologi di sepanjang Jalan Lintas Sumatra.
- Pembangunan retaining wall di titik-titik kritis seperti Km 87 Curup–Kepahiang.
- Peningkatan sistem peringatan dini bencana longsor, termasuk pemasangan alat deteksi pergerakan tanah.
- Koordinasi antara DPUPR, BPBD, dan Kementerian PUPR untuk mempercepat alokasi anggaran mitigasi.
Catatan strategis: Pemerintah Daerah Bengkulu Tengah bersama DPUPR Provinsi perlu menyusun rencana aksi percepatan mitigasi bencana longsor di wilayah rawan. Langkah terpadu ini mencakup penguatan infrastruktur penahan tanah, pengembangan jalur evakuasi, serta sosialisasi kepada masyarakat sekitar agar kesiapsiagaan terhadap bencana transportasi dapat ditingkatkan secara berkelanjutan.