Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan peningkatan signifikan aktivitas vulkanik gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada 14 Agustus 2026. Letusan abu vulkanik setinggi 1.200 meter dari puncak teramati pada pukul 06.30 WITA, yang mendorong perpanjangan status siaga di wilayah tersebut. Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur telah mengaktifkan posko darurat guna merespons dampak bencana erupsi ini. Data PVMBG mencatat bahwa aktivitas kegempaan vulkanik dalam dan dangkal meningkat secara bertahap dalam sepekan terakhir, mengindikasikan tekanan magma yang tinggi di bawah kawah.
Peningkatan Status Siaga dan Radius Bahaya di Wilayah Terdampak
Berdasarkan laporan resmi PVMBG, status gunung Lewotobi Laki-laki masih di Level III (Siaga) sejak 2 Agustus lalu dan diperpanjang menyusul erupsi terbaru. Radius bahaya ditetapkan sejauh 3 kilometer dari kawah, dengan perluasan sektor 5 kilometer ke arah utara dan timur laut. Kepala PVMBG, Hendra Gunawan, mengingatkan potensi bahaya guguran lava dan awan panas yang mengancam permukiman di lereng gunung. Data pemetaan kerawanan menunjukkan bahwa wilayah Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura menjadi zona paling rawan terhadap dampak langsung letusan. Berikut adalah data terbaru terkait dampak dan respons pemerintah:
- Jumlah pengungsi mencapai 1.780 jiwa dari 6 desa di Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura.
- Pengungsian dipusatkan di tenda-tenda darurat di ibu kota kabupaten Flores Timur.
- Aktivitas pertanian di lereng gunung dihentikan sementara untuk mengurangi risiko korban jiwa.
- Pemerintah daerah telah mendistribusikan masker dan bantuan logistik kepada para pengungsi, termasuk air bersih dan makanan siap saji.
Koordinasi Penanganan Bencana dan Langkah Mitigasi Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Flores Timur, bersama BPBD dan instansi terkait, terus melakukan koordinasi intensif untuk memastikan penanganan bencana berjalan optimal. Bantuan logistik, termasuk makanan, air bersih, dan masker, telah didistribusikan ke lokasi pengungsian. Selain itu, tim medis diterjunkan untuk memantau kesehatan pengungsi, khususnya terkait dampak abu vulkanik pada saluran pernapasan. Aktivitas pertanian di lereng gunung dihentikan sementara sebagai langkah antisipatif terhadap potensi guguran lava dan awan panas. BPBD Flores Timur juga mengaktifkan pos komando di tiga titik strategis untuk mempercepat koordinasi dengan desa-desa terdampak.
Catatan strategis untuk pemerintah daerah: Disarankan untuk memperkuat sistem peringatan dini berbasis masyarakat di desa-desa rawan, serta mengoptimalkan dana siap pakai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk percepatan respons. Koordinasi dengan PVMBG perlu ditingkatkan guna memonitor perkembangan aktivitas gunung, mengingat potensi erupsi susulan masih tinggi. Pemerintah daerah juga perlu menyusun rencana kontinjensi jangka panjang untuk mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang, termasuk sosialisasi jalur evakuasi dan simulasi tanggap darurat secara berkala. Langkah strategis ini krusial untuk memastikan keselamatan warga di wilayah Flores Timur yang berada dalam zona kerawanan tinggi.