|  Indonesia, WIB
Beranda Regional Korban Tewas Gempa Flores Bertambah Jadi 68 Jiwa, Gempa Susulan C...
Regional

Korban Tewas Gempa Flores Bertambah Jadi 68 Jiwa, Gempa Susulan Capai 1.624 Kali

Korban Tewas Gempa Flores Bertambah Jadi 68 Jiwa, Gempa Susulan Capai 1.624 Kali

Gempa Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, NTT pada 15 Agustus 2026, menyebabkan 68 korban jiwa dan 213 luka-luka, dengan 1.624 gempa susulan. BNPB bersama pemerintah daerah mengerahkan 1.467 personel untuk penanganan darurat. Pemerintah daerah direkomendasikan memperkuat mitigasi melalui audit bangunan dan sistem peringatan dini tsunami.

Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026, menimbulkan dampak signifikan terhadap keselamatan jiwa dan infrastruktur. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hingga Senin, 17 Agustus 2026, korban jiwa tercatat sebanyak 68 orang, sementara 213 orang lainnya mengalami luka-luka. Data tersebut diperoleh dari hasil koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tujuh kabupaten terdampak. Gempa utama yang berpusat di Laut Flores ini juga memicu peringatan tsunami yang terverifikasi di 16 lokasi di empat provinsi, dengan ketinggian gelombang tertinggi mencapai 1,605 meter di Pota, Kabupaten Manggarai Timur.

Sebaran Korban dan Dampak di Tujuh Kabupaten

Berdasarkan laporan BNPB, korban tewas tersebar secara tidak merata di wilayah Flores. Kabupaten Manggarai mencatat jumlah korban jiwa tertinggi sebanyak 26 orang, diikuti Manggarai Timur dengan 24 orang. Kabupaten lain yang juga mengalami kerugian jiwa meliputi:

  • Nagekeo: 8 orang meninggal
  • Sikka: 4 orang meninggal
  • Ende, Manggarai Barat, dan Ngada masing-masing 2 orang meninggal

Selain dampak langsung gempa, kepanikan di kalangan masyarakat akibat peringatan tsunami turut mempengaruhi mobilitas penduduk. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga pukul 11.00 WIB tanggal 17 Agustus 2026 telah terjadi 1.624 kali gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo berkisar antara 1,3 hingga 6,2. Kondisi ini meningkatkan kerawanan di wilayah pesisir dan perbukitan yang rawan longsor, sehingga memerlukan perhatian khusus dari pemerintah daerah dalam upaya mitigasi bencana.

Respon Pemerintah dan Langkah Mitigasi Terpadu

Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah segera mengerahkan sumber daya penanganan darurat. Sebanyak 1.467 personel gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, serta kementerian dan lembaga terkait diterjunkan ke lokasi terdampak. Dukungan logistik dan evakuasi diperkuat dengan 10 unit alutsista dan armada udara. BMKG juga melaksanakan survei makroseismik dan pemetaan mikrozonasi pascagempa di daerah dengan kerusakan sedang hingga berat. Hasil survei ini diharapkan menjadi dasar perencanaan rekonstruksi yang lebih tahan gempa bagi pemerintah daerah setempat.

Sebagai catatan strategis, pemerintah daerah di Flores dan NTT secara umum direkomendasikan untuk segera melakukan audit ketahanan bangunan publik dan rumah tinggal terhadap guncangan gempa. Selain itu, sistem peringatan dini tsunami di tingkat desa perlu diperkuat, dan pelatihan evakuasi mandiri bagi masyarakat pesisir harus diintensifkan. Pemetaan zona rawan bencana yang diperbarui berdasarkan data mikrozonasi BMKG akan menjadi instrumen vital dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan demi mengurangi risiko korban jiwa pada kejadian serupa di masa depan.

Entitas dalam Berita
Organisasi: BNPB, BMKG, TNI, Polri, Basarnas
Lokasi: Flores, Nusa Tenggara Timur, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Sikka, Ende, Manggarai Barat, Ngada, Pota
Berita Terkait