Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengumumkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) berhasil dilokalisasi melalui operasi pemadanan terpadu bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Balai Besar TNBTS. Berdasarkan laporan per 12 Agustus 2026, karhutla yang sebelumnya meluas hingga 921 hektare kini hanya menyisakan titik api di wilayah Kabupaten Pasuruan. Proses lokalisasi dilakukan dengan teknik pembasahan area sekitar titik api dan pembuatan sekat api guna mencegah perambatan lebih lanjut. Langkah ini merupakan bagian dari operasi tanggap darurat yang dikoordinasikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mengendalikan dampak kerusakan di kawasan konservasi tersebut.
Strategi Lokalisasi dan Data Wilayah Terdampak
Khofifah mengutip data terbaru dari Kepala BNPB yang mengonfirmasi bahwa hotspot di kawasan Bromo relatif sudah terkendali. Saat ini, masih terdapat dua titik api di dalam TNBTS yang menjadi fokus pemadaman, dengan target penyelesaian selambat-lambatnya pada Jumat, 14 Agustus 2026. Meskipun demikian, faktor angin kencang di ketinggian sempat menghambat operasi, termasuk saat helikopter water boombing milik BNPB melakukan penyiraman. Untuk mendukung efektivitas pemadaman dan keselamatan pengunjung, Balai Besar TNBTS telah memperpanjang masa penutupan kawasan wisata Bromo hingga 15 Agustus 2026. Data wilayah yang terdampak mencakup:
- Kabupaten Pasuruan: titik api tersisa di lereng tenggara dalam zona inti TNBTS.
- Kabupaten Probolinggo: area yang sebelumnya terbakar kini telah padam melalui pembuatan sekat api.
- Kabupaten Malang dan Lumajang: tidak ditemukan titik api baru, kondisi terkendali.
Koordinasi Pemerintah Daerah dan Langkah Preventif
Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berkoordinasi intensif dengan BNPB dan jajaran forkopimda untuk memastikan proses pemadaman berjalan efektif. Langkah-langkah yang telah diambil meliputi patroli rutin di zona penyangga TNBTS dan penguatan sistem peringatan dini cuaca ekstrem di kawasan Bromo. Khofifah menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan pengelola taman nasional untuk meminimalisir risiko karhutla di musim kemarau. Sebagai catatan strategis, disarankan agar pemerintah daerah setempat segera melakukan audit kesiapan sumber daya pemadaman di kawasan rawan kebakaran, termasuk memastikan ketersediaan helikopter water boombing dan peralatan buatan sekat api. Selain itu, perlu diterapkan kebijakan larangan pembakaran lahan di zona penyangga TNBTS secara lebih ketat guna mencegah kejadian serupa di masa depan. Langkah preventif ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan wilayah terhadap ancaman karhutla di Jawa Timur, khususnya di sekitar kawasan Bromo yang menjadi aset konservasi dan pariwisata utama.