Pemerintah Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, menggelar simulasi kesiapsiagaan bencana tsunami secara serentak di 12 kecamatan pesisir yang berbatasan langsung dengan Selat Sunda pada 15 September 2026. Kegiatan yang melibatkan lebih dari 50.000 peserta ini dilaksanakan bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Simulasi mengacu pada skenario gempa berkekuatan magnitudo 8,7 yang berpusat di segmen megathrust Selat Sunda, sebagai langkah konkret untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat pesisir di wilayah Pandeglang. Pelaksanaan ini merupakan bagian dari implementasi Rencana Kontinjensi Tsunami Kabupaten Pandeglang yang telah direvisi pascaperistiwa tsunami tahun 2018.
Pelaksanaan Simulasi dan Indikator Kesiapsiagaan
Skenario latihan menetapkan estimasi waktu gelombang tsunami mencapai daratan di Kabupaten Pandeglang antara 20 hingga 40 menit setelah gempa terjadi. Evakuasi dipusatkan menuju 156 titik kumpul dan 82 bangunan evakuasi vertikal (VEV) yang telah ditetapkan di 12 kecamatan pesisir. Latihan ini meliputi pembunyian sirene peringatan dini, proses evakuasi terarah menuju lokasi aman, serta penanganan pengungsi di posko darurat. Monitoring dilakukan secara ketat untuk mengukur waktu tempuh evakuasi dan mengevaluasi efektivitas jalur evakuasi yang ada.
Data wilayah yang terlibat dalam simulasi menunjukkan sebaran zona risiko tinggi di kecamatan berikut:
- Kecamatan Sumur
- Kecamatan Cinangka
- Kecamatan Panimbang
- Kecamatan Cigeulis
- Kecamatan Cibaliung
- Kecamatan Cimanggu
- Kecamatan Pagelaran
- Kecamatan Patia
- Kecamatan Sukaresmi
- Kecamatan Labuan
- Kecamatan Carita
- Kecamatan Jiput
Pemerintah daerah mencatat bahwa lebih dari 80 persen desa di kecamatan tersebut berada dalam radius lima kilometer dari garis pantai, yang memerlukan upaya kesiapsiagaan ekstra. Indikator yang dinilai meliputi kecepatan reaksi masyarakat terhadap sirene, pengetahuan rute evakuasi, serta ketersediaan perlengkapan darurat di setiap titik kumpul.
Evaluasi dan Catatan Strategis untuk Pemerintah Daerah
Hasil evaluasi dari simulasi ini akan digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki skenario evakuasi, khususnya bagi wilayah yang menunjukkan waktu tempuh evakuasi masih di atas estimasi ideal. Data dari BMKG mengindikasikan bahwa potensi tsunami di Selat Sunda tidak hanya dipicu oleh gempa megathrust, tetapi juga oleh aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, sehingga kesiapsiagaan masyarakat harus bersifat multi-ancaman. Pemerintah Kabupaten Pandeglang diharapkan dapat memperkuat koordinasi dengan pusat vulkanologi untuk mempercepat sistem peringatan dini.
Sebagai catatan strategis, pemerintah daerah perlu memastikan bahwa setiap kecamatan memiliki peta jalur evakuasi yang mutakhir dan mudah dipahami oleh masyarakat. Selain itu, peningkatan frekuensi simulasi kesiapsiagaan di wilayah pesisir Pandeglang menjadi rekomendasi utama untuk mengoptimalkan respons terhadap ancaman tsunami di Selat Sunda. Langkah ini penting mengingat risiko bencana yang tetap tinggi dan perlunya adaptasi berkelanjutan terhadap dinamika geologis setempat.