|  Indonesia, WIB
Beranda Regional Kekeringan Meluas di Makassar Ancam Puluhan Ribu Jiwa
Regional

Kekeringan Meluas di Makassar Ancam Puluhan Ribu Jiwa

Kekeringan Meluas di Makassar Ancam Puluhan Ribu Jiwa

Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menghadapi krisis air bersih skala besar akibat kekeringan meluas yang mengancam lebih dari 50.000 jiwa di 173 titik kerawanan. Pemerintah daerah merespons dengan pemetaan spasial terperinci di enam kecamatan dan menjadwalkan penetapan status tanggap darurat pada Juli 2026, didukung mobilisasi sumber daya penanggulangan bencana.

KOTA MAKASSAR, SULAWESI SELATAN — Pemerintah Kota Makassar melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menetapkan status siaga dalam menghadapi krisis air bersih skala besar akibat bencana kekeringan yang meluas di wilayah administrasinya. Berdasarkan laporan resmi BPBD Kota Makassar, kondisi darurat ini telah mengancam pasokan air bersih bagi lebih dari 50.000 jiwa penduduk yang tersebar di 173 titik kerawanan teridentifikasi, mencakup 27 kelurahan di enam kecamatan. Dampak operasionalnya, sebanyak 12.717 rumah tangga atau setara dengan 14.564 kepala keluarga mengalami kesulitan serius dalam pemenuhan kebutuhan dasar, mendesak intervensi strategis Pemerintah Kota.

Analisis Spasial dan Disparitas Tingkat Kerawanan Antarkecamatan

Respons penanganan krisis ini didasarkan pada pemetaan dan analisis spasial mendalam yang dilakukan oleh BPBD Kota Makassar. Analisis tersebut mengungkap disparitas signifikan dalam tingkat kerawanan pasokan air bersih antarwilayah kecamatan, dengan indikator utama berupa jumlah titik kekeringan dan estimasi populasi terdampak. Data pemetaan ini menjadi landasan teknis bagi penyusunan skala prioritas, alokasi sumber daya, dan strategi distribusi bantuan. Berikut rincian distribusi kerawanan berdasarkan laporan BPBD:

  • Kecamatan Biringkanaya: Ditetapkan sebagai zona kerawanan tertinggi dengan 58 titik kekeringan, mengancam pasokan air bagi 14.787 jiwa di empat kelurahan.
  • Kecamatan Tallo: Menyusul dengan 36 titik kerawanan yang berdampak pada 13.762 jiwa.
  • Kecamatan Tamalanrea: Terdampak signifikan dengan 27 titik kekeringan mengancam 9.947 jiwa.
  • Kecamatan Manggala: Mengalami 29 titik kekeringan dengan dampak terhadap 7.610 jiwa.
  • Kecamatan Ujung Tanah: Terdampak pada 17 titik yang mempengaruhi 2.921 jiwa.
  • Kecamatan Panakkukang: Memiliki 6 titik kekeringan dengan estimasi 1.324 jiwa terdampak.

Respons Kelembagaan dan Rencana Penetapan Status Tanggap Darurat

Menanggapi eskalasi ancaman, Pemerintah Kota Makassar telah menginisiasi langkah-langkah kelembagaan yang terstruktur. Secara prosedural, pemerintah daerah telah menjadwalkan penetapan resmi Status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan pada 14 Juli 2026 mendatang. Secara operasional, BPBD Kota Makassar telah mengerahkan sumber daya tanggap darurat yang terdiri dari 180 personel, didukung empat unit mobil pick-up, 57 unit tandon air, dan empat unit pompa air untuk memperlancar distribusi bantuan ke seluruh titik terdampak. Pengumuman resmi status darurat ini rencananya akan disampaikan oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, dalam forum Apel Kesiapsiagaan 2026.

Keputusan penetapan status darurat ini memiliki implikasi strategis yang luas bagi tata kelola penanganan bencana di tingkat daerah. Status tersebut tidak hanya menegaskan keseriusan situasi secara hukum, tetapi juga memperkuat kerangka regulasi dan kelembagaan untuk respons terpadu. Secara prosedural, status darurat memungkinkan percepatan mekanisme respons, alokasi anggaran yang lebih fleksibel melalui dana siap pakai (DSP), serta koordinasi yang lebih terintegrasi antar-satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan lembaga terkait di bawah komando posko terpadu.

Sebagai catatan strategis bagi Pemerintah Kota Makassar dan pemerintah daerah lain yang berpotensi mengalami kondisi serupa, situasi ini menggarisbawahi pentingnya pemetaan kerawanan berbasis data spasial yang presisi sebagai dasar perencanaan kontinjensi. Rekomendasi operasional mencakup percepatan realisasi infrastruktur air bersih jangka panjang di wilayah rawan, penguatan sistem peringatan dini kekeringan berbasis komunitas, serta integrasi rencana penanganan kekeringan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah (RPJMD dan RKPD) untuk memastikan keberlanjutan respons dan alokasi anggaran yang memadai.

Entitas dalam Berita
Tokoh: Munafri Arifuddin
Organisasi: Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Makassar, BPBD Kota Makassar, Pemerintah Kota Makassar
Lokasi: Makassar, Sulawesi Selatan, Kecamatan Biringkanaya, Kecamatan Tallo, Kecamatan Tamalanrea, Kecamatan Manggala, Kecamatan Ujung Tanah, Kecamatan Panakkukang
Berita Terkait