Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan mengalami eskalasi signifikan pada pekan ketiga Agustus 2026, terutama di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin. Fenomena ini menghasilkan asap tebal yang menurunkan jarak pandang di Kota Palembang hingga di bawah 500 meter, mengakibatkan gangguan operasional penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), telah mengerahkan Manggala Agni, TNI, dan Polri dalam operasi pemadaman terpadu. Kondisi ini menuntut respons cepat dari seluruh instansi untuk mengurangi dampak lebih lanjut terhadap mobilitas masyarakat dan perekonomian regional.
Eskalasi Titik Api dan Dampak Terhadap Penerbangan
Berdasarkan laporan BPBD Sumatera Selatan, titik api (hotspot) terkonsentrasi di beberapa wilayah dengan karakteristik kerawanan berbeda. Di Kabupaten OKI, api menyebar di area konsesi dan lahan masyarakat yang sulit dijangkau, sementara di Kabupaten Musi Banyuasin kebakaran gambut meluas hingga ke areal perkebunan dan hutan lindung. Asap yang terbawa angin ke Kota Palembang menurunkan kualitas udara dan jarak pandang di bandara, menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami penundaan atau pengalihan rute.
- Kabupaten Ogan Komering Ilir: titik api terkonsentrasi di area konsesi dan lahan masyarakat, akses pemadaman terbatas.
- Kabupaten Musi Banyuasin: kebakaran gambut meluas ke areal perkebunan dan hutan lindung, sulit dipadamkan akibat lahan kering.
- Kota Palembang: asap tebal menurunkan jarak pandang hingga di bawah 500 meter, mengganggu aktivitas penerbangan.
Koordinator Manggala Agni wilayah setempat mencatat bahwa sebagian besar titik api berada di lahan gambut kering akibat musim kemarau, sehingga api cepat menyebar dan sulit dipadamkan. Upaya water bombing menggunakan helikopter terkendala terbatasnya titik pengisian air dan luas area kebakaran yang mencapai ribuan hektare. Gangguan penerbangan ini menjadi perhatian serius karena memengaruhi mobilitas dan perekonomian masyarakat Sumatera Selatan.
Langkah Penanggulangan dan Koordinasi Pemerintah Daerah
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah mengaktifkan posko darurat karhutla di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, khususnya di OKI, Musi Banyuasin, dan Palembang. Posko ini berfungsi sebagai pusat komando pemadaman, distribusi logistik, serta pemantauan kualitas udara. Pengerahan personel gabungan melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, dan relawan, didukung water bombing dari KLHK dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dinas Kesehatan setempat juga meningkatkan kewaspadaan terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan membagikan masker gratis di titik keramaian dan sekolah.
Gubernur Sumatera Selatan menegaskan bahwa perusahaan pemegang konsesi yang lahannya terbakar akan dikenai sanksi administratif hingga pencabutan izin jika terbukti lalai. KLHK telah menerjunkan tim patroli untuk mengidentifikasi titik api dan pelaku pembakar. Langkah ini merupakan bagian dari upaya penegakan hukum dan pencegahan karhutla jangka panjang di wilayah rawan gambut.
Sebagai catatan strategis, pemerintah daerah perlu mengintensifkan patroli pencegahan karhutla di wilayah gambut dan memperkuat sistem deteksi dini hotspot berbasis satelit. Langkah ini penting untuk menekan perluasan api dan mencegah gangguan penerbangan yang lebih parah. Koordinasi lintas sektor antara BPBD, TNI, Polri, dan KLHK harus terus diperkuat guna memastikan respons cepat terhadap setiap titik api baru yang muncul.