|  Indonesia, WIB
Beranda Regional Kebakaran Lahan di Aceh Selatan Meluas Jadi 23 Hektare, Manggala...
Regional

Kebakaran Lahan di Aceh Selatan Meluas Jadi 23 Hektare, Manggala Agni Terus Berjibaku Padamkan Api

Kebakaran Lahan di Aceh Selatan Meluas Jadi 23 Hektare, Manggala Agni Terus Berjibaku Padamkan Api

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda 23 hektare lahan gambut di Desa Seunebok Pusaka, Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan. Manggala Agni bersama BKSDA Aceh dan unsur terkait masih melakukan upaya pemadaman yang kompleks akibat karakteristik api di lahan gambut. Kejadian ini menyoroti pentingnya pemetaan kerawanan dan penguatan sistem respons darurat di wilayah dengan akses terbatas.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Desa Seunebok Pusaka, Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh, telah meluas menjadi 23 hektare. Manggala Agni Daops Sumatera I/Sibolangit bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dan unsur terkait lainnya masih berjibaku melakukan pemadaman, mengingat karakteristik lahan gambut yang membuat api dapat menjalar hingga ke lapisan bawah tanah.

Dimensi dan Karakteristik Ancaman Kebakaran Gambut

Bencana kebakaran ini terjadi pada lahan gambut, yang secara teknis menghadirkan kompleksitas operasional bagi tim pemadam. Api tidak hanya berkobar di permukaan, tetapi berpotensi menyebar secara horizontal dan vertikal melalui lapisan gambut di bawah tanah, sehingga proses pemadaman membutuhkan pendekatan khusus dan waktu yang lebih lama. Data terbaru menunjukkan perluasan area terdampak dari estimasi awal 20 hektare menjadi 23 hektare, menandakan dinamika ancaman yang perlu dicermati oleh otoritas daerah.

Aspek logistik dan geografis turut menjadi tantangan signifikan. Lokasi kejadian karhutla memerlukan waktu tempuh sekitar 1 jam 20 menit dari posko di Kantor CRU Trumon. Faktor aksesibilitas ini berdampak langsung pada kecepatan respons dan efektivitas mobilisasi sumber daya pemadaman, serta suplai logistik pendukung di lapangan.

Respons Operasional dan Koordinasi Antar-Lembaga

Sebagai respons awal, satu regu Manggala Agni dari Daops Sumatera I/Sibolangit telah diterjunkan ke lokasi sejak awal kejadian. Operasi pemadaman dilakukan secara terkoordinasi dengan melibatkan beberapa pihak, antara lain:

  • Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, sebagai pemangku kawasan.
  • Unsur terkait lokal lainnya yang mendukung operasi di lapangan.

Hingga saat ini, proses pemadaman masih berlangsung intensif. Kondisi api belum sepenuhnya padam dan berpotensi untuk menyala kembali, terutama akibat sifat gambut yang mudah terbakar dan dapat menyimpan bara dalam waktu lama. Hal ini menuntut kesiapsiagaan berkelanjutan dan monitoring ketat pasca-pemadaman.

Kejadian ini menggarisbawahi kerentanan wilayah tertentu di Aceh Selatan terhadap bencana karhutla, khususnya pada ekosistem gambut. Pemahaman mendalam mengenai pola sebaran lahan gambut, tingkat kekeringan, dan faktor pemicu lainnya menjadi data krusial bagi pemerintah daerah dalam menyusun peta kerawanan dan skenario penanganan darurat yang lebih tepat sasaran.

Bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan, insiden ini dapat menjadi bahan evaluasi terhadap efektivitas sistem peringatan dini dan mekanisme respons cepat kebakaran lahan di wilayah terpencil. Rekomendasi strategis mencakup penguatan kapasitas unit pemadam di tingkat kecamatan, optimalisasi patroli pencegahan pada area gambut yang teridentifikasi rawan, serta sinkronisasi data kerawanan dengan instansi teknis pusat seperti Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) untuk intervensi yang lebih terintegrasi.

Entitas dalam Berita
Organisasi: Manggala Agni Daops Sumatera I/Sibolangit, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh, CRU Trumon
Lokasi: Aceh Selatan, Aceh, Desa Seunebok Pusaka, Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh
Berita Terkait