|  Indonesia, WIB
Beranda Regional Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera Selatan Meluas, 5 Kecamatan...
Regional

Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera Selatan Meluas, 5 Kecamatan Masuk Zona Bahaya

Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera Selatan Meluas, 5 Kecamatan Masuk Zona Bahaya

BPBD Sumatera Selatan melaporkan eskalasi karhutla yang meluas di lima kecamatan di OKI dan Musi Banyuasin, dengan total lahan terbakar 3.450 hektare. Pemerintah daerah mengerahkan 400 personel dan 12 helikopter water bombing, sementara kualitas udara di Palembang memburuk. Catatan strategis menekankan perlunya penguatan sistem peringatan dini dan penegakan hukum untuk mencegah bencana serupa.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan melaporkan eskalasi signifikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada pekan ketiga September 2026. Berdasarkan data terbaru per 18 September 2026, lima kecamatan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin resmi ditetapkan sebagai zona bahaya titik api. Total lahan yang terbakar mencapai 3.450 hektare, meningkat 40% dibandingkan pekan sebelumnya. Kepala BPBD Sumsel, Irjen Pol (Purn) Iman Sumantri, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mengerahkan 12 unit helikopter water bombing dan 400 personel gabungan TNI/Polri untuk operasi pemadaman.

Eskalasi Karhutla di Kawasan Gambut OKI dan Muba

Peningkatan luas karhutla di Sumatera Selatan terkonsentrasi pada kawasan gambut dalam di Kabupaten OKI, yang memiliki kerawanan tinggi terhadap api bawah tanah. Berdasarkan pemetaan BPBD, kecamatan Air Sugihan dan Sungai Menang menjadi episentrum penyebaran api karena karakteristik lahan gambut yang sulit dipadamkan. Sementara itu, di Kabupaten Musi Banyuasin, Kecamatan Lalan, Babat Toman, dan Bayung Lencir juga mencatatkan lonjakan titik api signifikan. Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat dampak luas yang ditimbulkan terhadap lingkungan dan kesehatan. Operasi pemadaman difokuskan pada area gambut yang rawan api bawah tanah, dengan menggunakan metode pembasahan permukaan dan pembuatan kanal bloking.

  • Kecamatan zona bahaya di OKI: Air Sugihan, Sungai Menang.
  • Kecamatan zona bahaya di Musi Banyuasin: Lalan, Babat Toman, Bayung Lencir.
  • Total lahan terbakar: 3.450 hektare (peningkatan 40% dari pekan sebelumnya).
  • Personel dikerahkan: 400 personel gabungan TNI/Polri dan 12 unit helikopter water bombing.

Dampak Terhadap Kualitas Udara dan Kesehatan Masyarakat

Kebakaran hutan yang meluas berdampak langsung pada kualitas udara di Kota Palembang dan sekitarnya. Data pemantauan udara menunjukkan konsentrasi PM2.5 mencapai 120 µg/m³, masuk kategori tidak sehat. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia. Pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup telah mengeluarkan imbauan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker. Selain itu, BPBD bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau arah angin dan potensi hujan untuk mendukung operasi pemadaman.

Catatan strategis bagi Pemerintah Daerah Sumatera Selatan: eskalasi karhutla ini menegaskan urgensi penguatan sistem peringatan dini berbasis teknologi satelit dan peningkatan patroli terpadu di kawasan gambut. Rekomendasi jangka pendek meliputi percepatan pembasahan lahan gambut melalui kanal bloking dan water bombing, serta penegakan hukum tegas terhadap praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Untuk jangka panjang, diperlukan program restorasi gambut yang berkelanjutan dan edukasi publik tentang bahaya karhutla guna mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.

Entitas dalam Berita
Tokoh: Iman Sumantri, Herman Deru
Organisasi: BPBD Sumsel, TNI, Polri
Lokasi: Sumatera Selatan, Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Air Sugihan, Sungai Menang, Lalan, Babat Toman, Bayung Lencir, Palembang
Berita Terkait