Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui konferensi pers pada Kamis, 3 September 2026, melaporkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah telah mencapai total luas area terbakar sebesar 739 hektare. Tim gabungan yang terdiri dari 10.700 personel satuan tugas darat berhasil memadamkan api di area seluas 459 hektare, dengan dukungan satu helikopter water bombing untuk operasi pemadaman dari udara. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan bahwa kejadian ini mengindikasikan urgensi penanganan serius terhadap bencana karhutla yang terus mengancam kualitas udara dan keselamatan masyarakat di wilayah Kalimantan.
Dampak Karhutla terhadap Kualitas Udara dan Visibilitas
Dampak karhutla yang meluas telah menyebabkan penurunan kualitas udara secara signifikan hingga mencapai kategori berbahaya di sejumlah wilayah. Berdasarkan data BNPB, jarak pandang di wilayah terdampak hanya mencapai 2,8 kilometer — kondisi yang sangat membahayakan aktivitas transportasi dan kesehatan masyarakat. Asap pekat masih mengepung sebagian besar wilayah di Kalimantan, terutama bagian Barat, Tengah, dan Selatan. Selain itu, beberapa titik di Sumatera seperti Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan juga mengalami dampak serupa. Berikut rincian wilayah terdampak berdasarkan laporan BNPB:
- Kalimantan Barat: seluruh kabupaten/kota terdampak asap tebal
- Kalimantan Tengah: area terdampak paling luas, dengan jarak pandang terendah 2,8 km
- Kalimantan Selatan: beberapa kabupaten melaporkan penurunan kualitas udara
- Riau: sejumlah kecamatan di sekitar lahan gambut mengalami kabut asap
- Jambi: titik panas terpantau di beberapa lokasi hutan lindung
- Sumatera Selatan: wilayah pesisir timur terdampak akibat arah angin
Prediksi Cuaca dan Arahan bagi Pemerintah Daerah
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi untuk tanggal 3 dan 4 September 2026 akan terjadi tren penurunan intensitas konsentrasi partikel PM2.5 di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Hal ini ditandai dengan memudarnya titik polutan pekat secara signifikan. Meskipun demikian, BNPB mengingatkan bahwa kondisi ini belum sepenuhnya aman dan masih memerlukan kewaspadaan tinggi. Pemerintah daerah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota diimbau untuk terus memperkuat koordinasi lintas sektor, meningkatkan patroli pencegahan, dan mengoptimalkan upaya pemadaman di titik-titik api baru. Rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah mencakup:
- Mengaktifkan pos komando darurat bencana
- Mendistribusikan masker gratis kepada masyarakat terdampak
- Mengintegrasikan data satelit cuaca dan titik panas dalam pengambilan keputusan operasional
Catatan strategis: Langkah-langkah ini krusial untuk mencegah meluasnya dampak kesehatan dan gangguan aktivitas masyarakat akibat bencana karhutla yang terus berulang setiap musim kemarau. Pemerintah daerah harus menjadikan pemetaan kerawanan wilayah sebagai prioritas agar respons terhadap karhutla dapat lebih cepat dan tepat sasaran. Koordinasi lintas sektor antara BNPB, BMKG, dan instansi terkait di tingkat daerah perlu terus diperkuat, termasuk optimalisasi penggunaan teknologi satelit untuk deteksi dini titik api. Dengan pendekatan yang terintegrasi, diharapkan dampak negatif terhadap kualitas udara dan keselamatan masyarakat dapat diminimalkan secara signifikan.