Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar bersama mitra konservasi memperkuat upaya penyelamatan satwa liar, khususnya orangutan, dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meluas di wilayah tersebut. Langkah ini diambil setelah meningkatnya titik panas (hotspot) di sejumlah kabupaten, seperti Ketapang, Sintang, dan Kapuas Hulu, yang merupakan habitat utama orangutan Kalimantan. Intensifikasi patroli dan rescue satwa menjadi prioritas untuk mencegah korban jiwa satwa serta meminimalkan konflik antara manusia dan satwa liar akibat kerusakan habitat. Langkah mitigasi bencana ini merupakan bagian dari respons terpadu terhadap ancaman karhutla yang berpotensi membahayakan ekosistem dan keanekaragaman hayati di Kalimantan Barat.
Penguatan Patroli dan Kesiapsiagaan di Wilayah Rawan Karhutla
BKSDA Kalbar meningkatkan frekuensi dan jangkauan patroli di kawasan hutan lindung dan taman nasional yang rawan terbakar. Sebanyak 15 unit kendaraan patroli roda empat dan enam unit perahu cepat dikerahkan untuk memantau titik-titik rawan karhutla serta jalur migrasi satwa. Masyarakat di sekitar kawasan konservasi juga dilibatkan melalui program Desa Peduli Api, yang diperkuat dengan sosialisasi nomor call center khusus untuk melaporkan keberadaan orangutan yang keluar dari habitatnya. Berikut rincian prioritas wilayah dan langkah operasional:
- Patroli darat dan sungai dilakukan setiap hari di lima kabupaten prioritas: Ketapang, Sintang, Kapuas Hulu, Sanggau, dan Landak.
- Call center 24 jam (0811-XXX-XXXX) disosialisasikan ke 120 desa penyangga hutan.
- Tim reaksi cepat (TRC) BKSDA disiagakan di posko-posko terpadu dengan jadwal piket bergilir.
Selain patroli, pemerintah daerah menyiagakan 20 unit pompa air portabel dan 5.000 meter selang di titik-titik strategis untuk mencegah api meluas ke area konservasi. Langkah ini merupakan bagian dari rencana kontinjensi karhutla yang dikoordinasikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar bersama TNI dan Polri. Mitigasi bencana ini juga melibatkan pemantauan satelit untuk deteksi dini hotspot, terutama di kawasan gambut yang rawan terbakar.
Perlindungan Satwa Liar dan Mitigasi Konflik Manusia-Satwa
Ancaman karhutla tidak hanya membakar habitat, tetapi juga menyebabkan satwa liar, seperti orangutan, beruang madu, dan lutung, terpaksa keluar hutan dan memasuki permukiman warga. Untuk mengantisipasi hal ini, BKSDA menyiapkan peralatan medis darurat, termasuk tabung oksigen, nebulizer, serta obat-obatan untuk mengatasi gangguan pernapasan akibat asap. Tim dokter hewan dari Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia diterjunkan ke lokasi-lokasi yang melaporkan keberadaan satwa terdampak. Berikut prioritas perlindungan satwa:
- Peralatan medis dipusatkan di Pusat Rehabilitasi Orangutan Sintang dan Ketapang.
- Setiap tim rescue dibekali perlengkapan evakuasi berupa jaring, kandang transportasi, dan alat bius.
- Masyarakat diimbau tidak memberi makan atau menangkap sendiri satwa yang keluar hutan, melainkan segera melapor ke call center.
Catatan strategis: Pemerintah daerah bersama BKSDA dan lembaga konservasi perlu terus memperkuat sistem deteksi dini karhutla berbasis satelit di Kalimantan Barat, sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan lahan tanpa bakar. Revitalisasi kanal gambut dan pembasahan lahan (rewetting) di wilayah rawan bencana, seperti Ketapang dan Kapuas Hulu, menjadi kunci dalam mengurangi risiko karhutla jangka panjang. Rekomendasi ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mengintegrasikan kebijakan konservasi satwa liar dengan rencana penanggulangan bencana, guna melindungi ekosistem dan kesejahteraan masyarakat sekitar.