Pada 13 September 2026, Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, mengalami erupsi serial sebanyak empat kali berturut-turut sejak pagi hari. Berdasarkan data resmi dari PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), rangkaian letusan ini mengonfirmasi peningkatan signifikan aktivitas vulkanik di kawasan rawan bencana tersebut. Pemerintah Kabupaten Lumajang bersama instansi terkait diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi seluruh rekomendasi teknis yang telah ditetapkan guna meminimalkan risiko bencana.
Kronologi Erupsi Serial dan Data PVMBG
Berdasarkan catatan PVMBG, erupsi serial Gunung Semeru yang terjadi pada pagi hari tercatat dalam empat rentang waktu berbeda. Pertama, pada pukul 04.41 WIB, kolom abu vulkanik terpantau setinggi 800 meter di atas puncak. Kedua, pada pukul 05.41 WIB, erupsi kembali terjadi dengan ketinggian kolom abu yang sama, yakni 800 meter. Ketiga, pada pukul 06.26 WIB, letusan menghasilkan kolom abu setinggi 900 meter di atas puncak (±4.376 mdpl), dengan warna putih hingga kelabu. Keempat, pada pukul 07.48 WIB, erupsi terakhir tercatat dengan kolom abu setinggi 700 meter.
Menindaklanjuti rangkaian letusan tersebut, PVMBG menegaskan bahwa status Gunung Semeru tetap berada pada Level III (Siaga). Imbauan resmi dikeluarkan agar tidak ada aktivitas apa pun di zona berbahaya yang telah ditetapkan, termasuk di sekitar puncak dan area yang berpotensi terdampak. Selain itu, PVMBG mengingatkan potensi ancaman sekunder seperti awan panas dan lahar dingin yang dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama saat hujan turun di kawasan rawan bencana.
Pemetaan Kawasan Rawan Bencana dan Rekomendasi untuk Pemerintah Daerah
Kabupaten Lumajang memiliki sejumlah kawasan rawan bencana yang berbatasan langsung dengan Gunung Semeru. Berdasarkan pemetaan PVMBG, wilayah-wilayah berikut menjadi prioritas dalam kesiapsiagaan bencana:
- Zona bahaya meliputi area dalam radius tertentu dari kawah, termasuk lembah dan aliran sungai yang berpotensi terdampak lahar dingin.
- Desa-desa di Kecamatan Pronojiwo, Candipuro, dan Pasirian termasuk dalam kategori risiko tinggi yang memerlukan perhatian khusus.
- Pemerintah daerah perlu mengaktifkan posko tanggap darurat dan memastikan jalur evakuasi serta tempat pengungsian dalam kondisi siap.
- Sosialisasi kepada masyarakat mengenai prosedur evakuasi dan larangan aktivitas di zona bahaya harus diperkuat secara berkelanjutan.
Sebagai catatan strategis bagi Pemerintah Daerah, koordinasi lintas sektor perlu segera dilakukan untuk memonitor perkembangan erupsi serial ini secara real-time. Penguatan sistem peringatan dini dan simulasi evakuasi bagi warga di kawasan rawan bencana sangat mendesak untuk meminimalkan risiko korban jiwa. Dengan status Siaga yang masih bertahan, kesiapan infrastruktur dan logistik di Kabupaten Lumajang harus menjadi prioritas utama hingga status diturunkan oleh PVMBG. Rekomendasi teknis dari PVMBG mengenai larangan aktivitas di zona berbahaya dan pemantauan potensi lahar dingin wajib dipatuhi secara ketat demi keselamatan masyarakat di kawasan rawan bencana.