Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat aktivitas erupsi Gunung Semeru sebanyak empat kali pada Selasa, 15 September 2026, dini hari. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengonfirmasi bahwa suara gemuruh kuat dari erupsi tersebut terdengar hingga ke permukiman warga di lereng gunung. Meskipun demikian, pihak BPBD memastikan tidak ada dampak langsung terhadap keselamatan warga dan aktivitas masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana tetap berlangsung normal hingga pagi hari. Kejadian ini kembali menegaskan pentingnya pengelolaan kawasan rawan bencana alam di wilayah Kabupaten Lumajang yang memiliki ancaman erupsi vulkanik tinggi.
Aktivitas Vulkanik dan Status Siaga
Berdasarkan laporan pemantauan dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru, erupsi terjadi pada rentang waktu pukul 00.10 WIB hingga 05.27 WIB. Kolom letusan teramati mencapai ketinggian sekitar 1.000 meter di atas puncak, dengan arah condong ke tenggara. Hingga saat ini, Gunung Semeru masih berada pada status Level III atau Siaga, yang mengindikasikan potensi ancaman bencana alam berupa erupsi dan aliran piroklastik. BPBD Lumajang terus melakukan koordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta instansi terkait untuk memantau perkembangan aktivitas vulkanik secara real-time. Berikut data aktivitas erupsi yang terekam:
- Empat letusan terjadi antara pukul 00.10 WIB dan 05.27 WIB pada 15 September 2026.
- Kolom abu letusan membumbung hingga 1.000 meter dari puncak.
- Status Siaga (Level III) masih berlaku, dengan rekomendasi keselamatan yang diperketat bagi masyarakat di lereng gunung.
- Wilayah Kabupaten Lumajang menjadi fokus utama pengelolaan kawasan rawan bencana dalam tanggap darurat erupsi Gunung Semeru.
Rekomendasi Keselamatan dan Zona Rawan
BPBD Kabupaten Lumajang telah mengeluarkan rekomendasi keselamatan yang wajib dipatuhi oleh masyarakat di sekitar lereng Gunung Semeru. Kawasan yang paling diwaspadai adalah sektor tenggara di sepanjang aliran Besuk Kobokan, yang merupakan jalur utama luncuran material vulkanik. Berdasarkan peta kerawanan bencana alam terbaru, radius bahaya meliputi area hingga 13 kilometer dari puncak untuk aktivitas masyarakat, serta zona tepi sungai Besuk Kobokan dengan jarak 500 meter dari bibir sungai. Potensi aliran lahar dan perluasan material panas diperkirakan dapat mencapai jarak hingga 17 kilometer dari puncak, terutama saat musim hujan. Rekomendasi keselamatan yang ditekankan oleh pemerintah daerah meliputi:
- Dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan dalam radius 13 km dari puncak.
- Masyarakat tidak boleh berada dalam jarak 500 meter dari tepi sungai Besuk Kobokan.
- Aliran lahar dan material panas berpotensi menjangkau hingga 17 km dari puncak ke arah tenggara.
- Pemerintah daerah mengimbau warga untuk selalu mematuhi arahan petugas di lapangan dan tidak mempercayai informasi yang tidak terverifikasi.
Sebagai catatan strategis, Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang perlu terus memperkuat sistem peringatan dini terintegrasi dan meningkatkan kapasitas masyarakat di zona rawan bencana melalui simulasi rutin serta pengadaan jalur evakuasi yang memadai. Koordinasi lintas sektor antara BPBD, PVMBG, dan aparat kewilayahan harus diperketat guna mengantisipasi eskalasi Status Siaga menjadi Awas. Pengelolaan kawasan rawan bencana alam di sekitar Gunung Semeru juga harus disertai dengan pengendalian tata ruang yang tegas, khususnya pada sektor tenggara yang menjadi jalur utama aliran material erupsi. Dengan demikian, dampak risiko terhadap keselamatan jiwa dan kerugian material dapat diminimalkan secara berkelanjutan.