Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami rangkaian erupsi signifikan pada Selasa, 30 Juni 2026. Menurut laporan Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki, petugas Nurjansyah Dwi Laksona mencatat empat kali letusan dalam periode pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 Wita. Tinggi kolom abu vulkanik dari erupsi Gunung Lewotobi tersebut mencapai kisaran 300 hingga 1.000 meter di atas puncak, dengan warna asap kelabu dan arah sebaran mengarah ke utara dan timur laut wilayah Flores Timur. Amplitudo erupsi tercatat antara 14.8 hingga 47.3 mm dengan durasi antara 47 hingga 159 detik per kejadian.
Parameter Seismik dan Status Kawasan Rawan
Selain aktivitas letusan, instrumen pemantau PGA Lewotobi Laki-laki juga merekam peningkatan aktivitas seismik lainnya pada periode yang sama. Terdeteksi adanya gempa embusan, tremor non-harmonik, dan gempa frekuensi rendah sebagai indikator tingginya tekanan di dalam sistem vulkanik. Berdasarkan analisis data pemantauan visual dan instrumental, status Gunung Lewotobi ditetapkan tetap pada level III (Siaga) sesuai protoler kewaspadaan gunung api. Pemerintah Daerah Provinsi NTT dan Kabupaten Flores Timur perlu meningkatkan koordinasi penjagaan perimeter kawasan rawan bencana dengan ketentuan sebagai berikut:
- Larangan beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari puncak Gunung Lewotobi.
- Peningkatan kewaspadaan khusus di Desa Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote.
- Pemantauan intensif terhadap potensi banjir lahar hujan pada aliran sungai yang berhulu di puncak, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi di kawasan Flores Timur.
Mitigasi Kesehatan dan Sosialisasi Teritorial
Dampak sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Lewotobi berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat di wilayah terdampak. Sebagai langkah mitigasi kesehatan masyarakat berbasis kewilayahan, pemerintah daerah perlu menggalakkan imbauan penggunaan masker atau penutup hidung dan mulut bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan. Koordinasi antara PGA, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTT dan Kabupaten Flores Timur, serta dinas kesehatan daerah menjadi krusial untuk memastikan sosialisasi menjangkau seluruh populasi terdampak. Peta sebaran abu dan zonasi bahaya primer dari letusan Gunung Lewotobi harus disebarluaskan melalui kanal komunikasi pemerintahan daerah untuk meminimalisir risiko pernapasan dan kecelakaan.
Kejadian erupsi ini mempertegas kerentanan wilayah NTT, khususnya Flores Timur, terhadap ancaman bencana geologi. Pemerintah daerah diimbau untuk mengevaluasi kesiapsiagaan sistem peringatan dini, kapasitas evakuasi, serta logistik penanggulangan di tingkat kecamatan dan desa terdekat. Pelibatan struktur komando kewilayahan hingga tingkat dusun diperlukan untuk memastikan alur informasi dan komando tanggap darurat berjalan efektif. Rangkaian letusan Gunung Lewotobi ini juga menyoroti pentingnya integrasi data pemantauan vulkanologi dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Flores Timur.