Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan peningkatan signifikan jumlah korban jiwa akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga Kamis, 27 Agustus 2026, total korban meninggal dunia terkonfirmasi mencapai 111 jiwa. Penambahan enam korban terbaru berasal dari Kabupaten Manggarai (4 orang) dan Kabupaten Manggarai Timur (2 orang). Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa mayoritas korban merupakan dampak tidak langsung pascabencana, termasuk akibat longsor dan bangunan roboh di kawasan permukiman padat penduduk. Kondisi ini menegaskan bahwa dampak bencana di Flores masih terus dirasakan secara multidimensi, terutama dari sisi kemanusiaan dan kerentanan infrastruktur daerah.
Penanganan Pengungsi dan Pemulihan Infrastruktur di Flores
Jumlah pengungsi akibat bencana gempa bumi di Flores menunjukkan tren penurunan bertahap. Data terbaru mencatat 176.621 jiwa masih mengungsi di berbagai posko, menurun dari 179.037 jiwa pada hari sebelumnya. Penurunan paling signifikan terjadi di Posko Pengungsian Kabupaten Sikka, seiring dengan kembalinya sebagian warga ke pemukiman yang telah dinyatakan aman oleh tim verifikasi struktural. Pemerintah daerah terus melakukan asesmen multi-sektor untuk memetakan zona aman dan mengidentifikasi lokasi hunian sementara yang representatif. Pemulihan infrastruktur dan akses logistik ke wilayah terdampak masih menjadi prioritas penanganan, termasuk perbaikan jalan utama di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Sikka yang sempat terputus akibat longsor dan retakan tanah. Distribusi bantuan dasar mencakup beberapa fokus utama:
- Distribusi makanan, air bersih, selimut, dan perlengkapan kesehatan telah dikoordinasikan oleh BNPB bersama BPBD di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Flores Timur, dan Lembata.
- Perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan, yaitu anak-anak, lansia, dan ibu hamil, yang membutuhkan layanan kesehatan dan perlindungan di pengungsian.
- Situasi pengungsi di Kabupaten Flores Timur dan Lembata mulai terkendali, meskipun masih memerlukan dukungan psikososial dan pendidikan darurat bagi anak-anak terdampak.
Aktivitas Seismik dan Kewaspadaan Wilayah Flores
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan aktivitas seismik di wilayah Flores masih sangat tinggi. Hingga 27 Agustus 2026, telah tercatat sebanyak lebih dari 8.000 gempa susulan dengan magnitudo bervariasi. Data dari BNPB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menunjukkan bahwa tingkat kerawanan wilayah Flores terhadap gempa bumi dan bencana sekunder seperti tanah longsor serta bangunan roboh masih sangat tinggi, sehingga diperlukan langkah mitigasi struktural segera. Pemerintah daerah diharapkan segera menyusun rencana relokasi bagi pemukiman yang berlokasi di zona merah bencana gempa bumi dan tsunami, sejalan dengan rekomendasi BNPB untuk mengurangi kerentanan korban di masa mendatang.
Catatan Strategis: Pemerintah daerah di Flores perlu segera mengintegrasikan peta kerawanan bencana ke dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) sebagai langkah preventif jangka panjang. Selain itu, penguatan kapasitas tim reaksi cepat dan penyediaan posko logistik di setiap kabupaten mutlak dilakukan untuk meminimalkan dampak bencana serupa di masa depan. Kolaborasi dengan BMKG dan BNPB untuk sistem peringatan dini berbasis komunitas juga harus dioptimalkan guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bencana gempa bumi di Flores.