Gempa bumi dengan magnitudo 5,8 mengguncang Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, pada Kamis (20/8/2026) pukul 09.47 WIT. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pusat gempa berada di 45 km barat laut Kota Masohi dengan kedalaman 10 km, dan gempa ini tidak berpotensi tsunami. Guncangan dirasakan kuat selama 10 hingga 15 detik di sejumlah wilayah, termasuk Kota Masohi, Kecamatan Amahai, dan Pulau Seram. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku Tengah segera menerjunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) ke lokasi terdampak untuk melakukan pendataan dan asesmen awal.
Dampak dan Respons Penanganan Bencana
Berdasarkan laporan sementara BPBD Maluku Tengah, gempa bumi ini mengakibatkan kerusakan pada 15 unit rumah warga yang mengalami rusak ringan, serta satu fasilitas kesehatan mengalami retak pada struktur bangunan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Warga setempat sempat berhamburan keluar rumah ketika guncangan terjadi, namun situasi kini telah kembali kondusif. Kepala Pelaksana BPBD Maluku Tengah, M. Taufik, menyatakan bahwa situasi sudah terkendali dan aktivitas masyarakat sudah berangsur normal. Tim TRC terus melakukan pendataan kerusakan dan mendistribusikan bantuan awal sesuai kebutuhan. Data wilayah terdampak meliputi:
- Kota Masohi dengan guncangan terkuat dan kerusakan rumah terbanyak.
- Kecamatan Amahai yang mengalami guncangan sedang dan beberapa rumah rusak ringan.
- Pulau Seram bagian barat laut yang merasakan getaran tetapi belum ada laporan kerusakan signifikan.
Kerawanan Geologi dan Rekomendasi Strategis
Kejadian gempa bumi ini menjadi pengingat akan kerawanan geologi di wilayah Maluku yang berada pada jalur pertemuan lempeng tektonik aktif. Potensi gempa bumi dengan kedalaman dangkal seperti ini perlu diantisipasi secara berkelanjutan oleh pemerintah daerah dan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah telah mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap gempa susulan yang mungkin terjadi serta selalu memastikan jalur evakuasi dan titik kumpul aman di setiap desa. BPBD setempat juga terus melakukan pemetaan kerawanan wilayah untuk memperkuat upaya mitigasi bencana. Sebagai catatan strategis, perlu adanya peningkatan kapasitas TRC, sosialisasi gempa bumi kepada masyarakat, serta penguatan infrastruktur tahan gempa pada fasilitas publik dan rumah warga. Koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, BMKG, dan satuan pendidikan kebencanaan perlu diperkuat untuk mempercepat respons pada kejadian serupa di masa mendatang.