Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, telah mengerahkan logistik darurat sebagai respons cepat terhadap kebakaran besar yang melanda Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok. Kejadian ini menyebabkan ratusan warga kehilangan tempat tinggal dan memaksa pemerintah daerah untuk segera membentuk posko darurat di lokasi kejadian sebagai pusat koordinasi dan penampungan korban.
Koordinasi Operasional dan Distribusi Logistik Darurat
Dalam penanganan fase tanggap darurat, BPBD Sukabumi menjalankan koordinasi terpadu dengan TNI, Polri, dan relawan lokal untuk memastikan efisiensi distribusi bantuan. Data operasional sementara mencatat posko darurat menampung 178 jiwa dari 66 Kepala Keluarga terdampak. Logistik darurat yang telah didistribusikan meliputi:
- Bahan Pangan: Beras, mi instan, dan air mineral.
- Kebutuhan Khusus: Susu bayi untuk balita terdampak.
- Perlengkapan Penunjang: Selimut dan kasur lantai untuk tempat tidur darurat.
Pendanaan dan Asesmen Dampak Terhadap Infrastruktur Adat
Kepala BPBD Kabupaten Sukabumi mengonfirmasi bahwa pengeluaran untuk bantuan darurat ini dibiayai melalui mekanisme anggaran khusus, yaitu Dana Siap Pakai (DSP) dari APBN dan Belanja Tidak Terduga (BTT) dari APBD Kabupaten Sukabumi. Penggunaan kedua instrumen anggaran ini menunjukkan kapasitas keuangan daerah dalam menghadapi situasi bencana mendadak. Setelah fase tanggap darurat, prioritas bergeser kepada pelaksanaan asesmen kerusakan menyeluruh. Asesmen ini tidak hanya terbatas pada kerusakan permukiman, tetapi juga menjangkau infrastruktur ketahanan pangan adat setempat, khususnya leuit (lumbung pangan adat) yang menjadi penopang sistem pangan komunitas. Kerusakan signifikan pada infrastruktur ini berpotensi mengancam ketahanan pangan komunitas adat dalam jangka menengah.
Dari perspektif pemerintahan daerah dan keamanan teritorial, kejadian ini menggarisbawahi urgensi pemetaan kerawanan spesifik di wilayah permukiman adat. Wilayah-wilayah ini sering kali memiliki karakteristik bangunan dan tata ruang yang unik serta padat, sehingga memerlukan pendekatan penanganan bencana yang khusus. Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mengintegrasikan data asesmen kerusakan dari peristiwa ini ke dalam sistem perencanaan pembangunan daerah. Hal ini khususnya relevan dalam program penguatan ketahanan bencana yang berbasis kearifan lokal dan peningkatan kapasitas infrastruktur darurat di tingkat kecamatan.