Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur telah meningkatkan status kewaspadaan dan menyiagakan seluruh personelnya untuk mengantisipasi potensi bencana banjir bandang pasca peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Semeru. Langkah ini diambil sebagai respons preventif terhadap akumulasi material vulkanik di daerah puncak dan lereng gunung, yang berpotensi berubah menjadi aliran lahar dingin (lahar hujan) apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Peningkatan kapasitas siaga ini difokuskan pada wilayah-wilayah administratif yang secara langsung berbatasan dengan kawasan rawan, terutama Kabupaten Lumajang dan Malang.
Penguatan Posko Pengamatan dan Koordinasi Lintas Instansi
Kepala BPBD Jawa Timur, Drs. Budi Santosa, M.Si., menyatakan bahwa penguatan telah dilakukan terhadap posko-posko pengamatan dan tim cepat tanggap. Koordinasi intensif juga telah dijalin dengan sejumlah instansi kunci untuk menyusun skenario tanggap darurat yang komprehensif. Instansi yang terlibat antara lain:
- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk pemantauan aktivitas vulkanik dan prediksi aliran material.
- TNI dan Polri untuk dukungan logistik, keamanan, dan evakuasi jika diperlukan.
- Pemerintah Kabupaten Lumajang dan Malang sebagai ujung tombak pelayanan di tingkat tapak.
Pemetaan Kerawanan dan Imbauan kepada Masyarakat di Daerah Aliran Sungai
Pemetaan ulang zona kerawanan menunjukkan bahwa daerah sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru masuk dalam kategori risiko tinggi. Menyikapi hal ini, BPBD Jatim telah mengeluarkan imbauan resmi kepada masyarakat, terutama yang bermukim di:
- Desa-desa di Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro, Kabupaten Lumajang.
- Kawasan di sepanjang aliran Kali Konto dan Kali Amprong di Kabupaten Malang.
Kesiapsiagaan yang dilakukan oleh BPBD Jatim mencerminkan penerapan prinsip mitigasi berbasis risiko dalam tata kelola bencana daerah. Langkah proaktif dengan memperkuat posko, memperbarui data kerawanan, dan mengoordinasikan sumber daya lintas sektor menjadi model yang dapat diadopsi oleh daerah-daerah lain dengan karakteristik geologi serupa. Efektivitas dari skenario yang telah disusun akan sangat bergantung pada kedisiplinan semua pihak dalam menjalankan protokol yang ada dan kesigapan dalam merespons peringatan dini.
Catatan Strategis untuk Pemerintah Daerah: Pemerintah Kabupaten Lumajang dan Malang disarankan untuk segera mengaktifkan dan mensosialisasikan rencana kontinjensi di tingkat desa/kelurahan, serta memastikan ketersediaan titik kumpul dan logistik darurat. Integrasi data pemetaan kerawanan terbaru ke dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan infrastruktur di daerah aliran sungai (DAS) rawan harus menjadi prioritas untuk membangun ketahanan wilayah jangka panjang.