|  Indonesia, WIB
Beranda Regional BNPB Catat Korban Jiwa Gempa Flores NTT Mencapai 135 Orang, Puluh...
Regional

BNPB Catat Korban Jiwa Gempa Flores NTT Mencapai 135 Orang, Puluhan Ribu Rumah Rusak

BNPB Catat Korban Jiwa Gempa Flores NTT Mencapai 135 Orang, Puluhan Ribu Rumah Rusak

Gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur, mengakibatkan 135 korban jiwa, 1.763 luka-luka, dan 70.382 pengungsi berdasarkan data BNPB per 8 September 2026. Sebanyak 98.986 unit rumah rusak dengan kategori berat, sedang, dan ringan, serta kerusakan infrastruktur publik masih dalam asesmen. Pemerintah daerah bersama BNPB terus melakukan tanggap darurat, distribusi logistik, dan pemetaan kerawanan wilayah untuk mendukung rehabilitasi dan rekonstruksi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data terkini dampak gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), per Selasa, 8 September 2026. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, melaporkan bahwa jumlah korban jiwa akibat bencana ini mencapai 135 orang. Rincian korban meliputi 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa, sementara 87 orang meninggal karena faktor tidak langsung seperti penyakit dan trauma pascabencana. Data ini menjadi indikator awal besarnya skala bencana yang melanda kawasan kepulauan NTT, sehingga memerlukan respons cepat dan terkoordinasi dari pemerintah daerah. BNPB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTT terus melakukan pemutakhiran data guna mendukung perencanaan tanggap darurat yang efektif.

Analisis Dampak Bencana dan Data Kerusakan di Wilayah Flores

Berdasarkan hasil asesmen sementara BNPB, dampak gempa Flores mencakup korban luka-luka, jumlah pengungsi, serta kerusakan infrastruktur permukiman yang signifikan. Data ini menjadi acuan dalam perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Berikut rincian data dampak bencana yang terverifikasi:

  • Korban luka-luka: Sebanyak 1.763 orang mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan bervariasi. Sebagian besar telah mendapatkan penanganan medis darurat di posko kesehatan dan rumah sakit rujukan di beberapa kabupaten di Flores.
  • Pengungsi: Jumlah warga yang mengungsi tercatat sebanyak 70.382 orang. Mereka tersebar di titik-titik evakuasi, tenda pengungsian, dan rumah warga yang masih aman. Pemerintah daerah bersama BNPB terus mendata kebutuhan dasar para pengungsi, termasuk pangan, air bersih, dan layanan kesehatan.
  • Kerusakan rumah: Sebanyak 98.986 unit rumah mengalami kerusakan, yang terbagi dalam tiga kategori: rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan. Kerusakan paling parah terjadi di permukiman padat penduduk di pesisir dan lereng perbukitan yang berada dekat episenter gempa. BNPB masih melakukan asesmen terhadap kerusakan infrastruktur publik seperti jalan, jembatan, sekolah, dan puskesmas guna memulihkan akses layanan dasar dan mobilitas ekonomi di wilayah terdampak.

Upaya Tanggap Darurat dan Langkah Pemerintah Daerah

Pemerintah pusat dan daerah telah mengerahkan personel gabungan untuk melaksanakan tanggap darurat, evakuasi, dan distribusi logistik. Unsur yang terlibat meliputi BNPB, BPBD Provinsi NTT dan kabupaten/kota, TNI, Polri, serta relawan dari berbagai organisasi kemanusiaan. Koordinasi lintas sektor menjadi kunci dalam mempercepat penanganan darurat, terutama untuk menjangkau daerah-daerah terisolasi akibat kerusakan jalan dan jembatan. Distribusi bantuan logistik seperti makanan, tenda, selimut, dan obat-obatan terus dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan prioritas di lapangan. Selain itu, pemerintah daerah bersama BNPB menyusun peta kerawanan wilayah pascagempa guna mengidentifikasi titik-titik rawan bencana susulan serta memetakan lokasi prioritas untuk rehabilitasi dan rekonstruksi permukiman. Langkah ini sejalan dengan kebijakan daerah dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana dan mitigasi risiko di kawasan Flores.

Sebagai catatan strategis bagi pemerintah daerah, tingginya angka korban jiwa dan pengungsi menunjukkan perlunya penguatan sistem peringatan dini, peningkatan kapasitas infrastruktur tahan gempa, serta edukasi masyarakat tentang prosedur evakuasi. Pemda di wilayah Flores diharapkan dapat mengintegrasikan data kerusakan dari BNPB ke dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) untuk memastikan alokasi anggaran yang memadai bagi rehabilitasi dan rekonstruksi. Rekomendasi ini penting untuk mengurangi risiko bencana serupa di masa depan dan mempercepat pemulihan sosial-ekonomi masyarakat terdampak.

Entitas dalam Berita
Tokoh: Berton SP Panjaitan
Organisasi: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, BPBD Provinsi NTT, TNI, Polri
Lokasi: Flores, Nusa Tenggara Timur, NTT
Berita Terkait