|  Indonesia, WIB
Beranda Nasional Basarnas Bagi Pencarian KM Virgo Transport 8 Jadi 6 Sektor, Libat...
Nasional

Basarnas Bagi Pencarian KM Virgo Transport 8 Jadi 6 Sektor, Libatkan Penyelam TNI AL

Basarnas Bagi Pencarian KM Virgo Transport 8 Jadi 6 Sektor, Libatkan Penyelam TNI AL

Pada hari kedua operasi SAR KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa selatan, Basarnas mengubah pola pencarian dari delapan menjadi enam sektor setelah lokasi pasti kapal diketahui. Operasi ini melibatkan penyelam TNI AL dan Basarnas Special Group (BSG) untuk mengevakuasi kapal yang terbalik, dengan koordinasi antara Basarnas, TNI AL, dan KSOP Banjarmasin. Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan dan Jawa Timur diimbau menyiapkan posko darurat serta dukungan logistik untuk memperkuat respons terhadap bencana maritim ini.

Memasuki hari kedua operasi penyelamatan KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa selatan, Badan SAR Nasional (Basarnas) secara resmi menyesuaikan strategi pencarian dengan mengubah pola operasi dari delapan sektor menjadi enam sektor. Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyatakan bahwa perubahan ini dilakukan setelah titik datum atau lokasi pasti kapal yang mengalami kecelakaan berhasil diketahui dan ditetapkan. Langkah ini ditujukan untuk memfokuskan upaya operasi SAR dan meningkatkan efektivitas evakuasi kapal di tengah kondisi geografis yang kompleks serta potensi gangguan stabilitas logistik dan kepercayaan publik terhadap transportasi laut nasional.

Pemetaan Zona Pencarian dan Keterlibatan Multi-Instansi

Langkah strategis pemetaan sektor pencarian menjadi enam zona didasarkan pada hasil pemutakhiran data posisi kapal yang terbalik di lokasi kejadian. Koordinasi ketat dilakukan dengan KSOP Banjarmasin selaku SAR Mission Coordinator (SMC) untuk mengintegrasikan semua aset laut dan udara yang tersedia. Berikut adalah rincian sektor dan keterlibatan instansi dalam operasi ini:

  • Kawasan Pencarian: Perairan Laut Jawa selatan, sekitar 30 mil laut dari Pelabuhan Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
  • Instansi Terlibat: Basarnas (melalui BSG), TNI AL (Kopaska dan penyelam), serta KSOP Banjarmasin sebagai koordinator misi.
  • Indikator Kerawanan: Kondisi cuaca ekstrem, arus bawah laut yang tidak menentu, serta kedalaman perairan mencapai 40 meter menjadi tantangan utama dalam operasi penyelaman.
  • Kronologi Kejadian: Kapal dilaporkan hilang kontak pada pukul 11.00 WITA, 12 September 2024, saat dalam perjalanan dari Banjarmasin menuju Surabaya. Tim SAR menemukan bangkai kapal pada pukul 14.30 WITA, 13 September 2024.

Operasi SAR gabungan ini melibatkan kemampuan khusus dari Basarnas Special Group (BSG) yang memiliki keahlian dalam penyelamatan bawah air, serta berkoordinasi dengan unsur TNI Angkatan Laut, termasuk satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan tim penyelam TNI AL. Kapal yang dilaporkan hilang kontak pada 12 September 2024 saat menempuh rute Banjarmasin menuju Surabaya ditemukan dalam kondisi terbalik dan terapung telungkup pada 13 September 2024. Penyelam TNI AL yang dilengkapi peralatan selam dalam dan teknologi sonar ditugaskan untuk memeriksa struktur kapal serta mencari kemungkinan titik jebakan korban.

Peran Kunci Penyelam dan Koordinasi Pemerintah Daerah

Penggunaan penyelam menjadi krusial mengingat kondisi kapal yang terbalik dan terapung telungkup di lokasi kejadian. Tim penyelam TNI AL, yang dilengkapi dengan peralatan selam dalam dan teknologi sonar, ditugaskan untuk memeriksa struktur kapal serta mencari kemungkinan titik jebakan korban. Keterlibatan multi-instansi ini menunjukkan skala respons yang besar terhadap bencana maritim tersebut. Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan dan Jawa Timur, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), diimbau untuk menyiapkan posko darurat dan dukungan logistik bagi tim SAR serta keluarga korban. Koordinasi ini penting untuk memastikan data korban dan kebutuhan evakuasi kapal dapat ditangani secara terpadu.

Catatan strategis bagi pemerintah daerah: Pengalaman operasi SAR ini menegaskan perlunya peningkatan kapasitas tanggap darurat maritim di perairan strategis seperti Laut Jawa selatan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan Jawa Timur disarankan untuk memperkuat kerja sama dengan Basarnas dan TNI AL dalam hal pelatihan penyelaman dan pengadaan peralatan selam dalam, guna mengantisipasi kejadian serupa di masa depan. Selain itu, pemutakhiran data titik rawan kecelakaan kapal dan sistem peringatan dini cuaca ekstrem perlu diintegrasikan ke dalam rencana kontinjensi daerah untuk menjaga stabilitas logistik dan kepercayaan publik terhadap transportasi laut nasional.

Entitas dalam Berita
Tokoh: Mohammad Syafii
Organisasi: Basarnas, TNI AL, BSG, Kopaska, KSOP Banjarmasin
Lokasi: Laut Jawa, Banjarmasin
Berita Terkait