Bencana banjir bandang menerjang sembilan desa di Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Rabu malam, 10 September 2026. Peristiwa ini dipicu oleh curah hujan dengan intensitas sangat tinggi yang menyebabkan meluapnya Sungai Rongkong. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu Utara yang dirilis pada 11 September 2026, sebanyak 2.345 kepala keluarga (KK) atau sekitar 8.200 jiwa terpaksa mengungsi ke posko-posko darurat. Lokasi pengungsian terkonsentrasi di tiga kecamatan, yaitu Masamba, Sabbang, dan Baebunta, yang hingga saat ini masih dalam status tanggap darurat. Kondisi ini memperparah kerentanan wilayah yang sebelumnya telah mengalami degradasi lingkungan di daerah tangkapan air.
Dampak Banjir Bandang dan Data Pengungsian
Banjir bandang yang terjadi di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Rongkong membawa material lumpur dan kayu yang mengakibatkan kerusakan parah pada pemukiman warga. Berdasarkan laporan lapangan, tim gabungan BPBD, TNI, Polri, dan relawan mencatat beberapa dampak signifikan sebagai berikut:
- Sebanyak 2.345 KK atau 8.200 jiwa mengungsi di Kecamatan Masamba, Sabbang, dan Baebunta.
- Satu warga dilaporkan hilang dan masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan.
- Puluhan unit rumah mengalami kerusakan berat akibat tertimbun material lumpur dan kayu.
- Akses jalan nasional poros Palopo–Makassar terputus di beberapa titik akibat longsor dan genangan air setinggi satu meter, mengisolasi sejumlah desa.
- Distribusi logistik terhambat di wilayah terdampak, namun tim terus berupaya membuka jalur darurat.
Upaya Penanganan dan Mitigasi Bencana
Tim gabungan dari BPBD Luwu Utara, TNI, Polri, serta relawan kemanusiaan telah dikerahkan untuk melakukan evakuasi warga, pendistribusian bantuan logistik, dan pencarian korban hilang. Hingga saat ini, satu warga masih dinyatakan hilang dan tim SAR gabungan terus melakukan pencarian di sepanjang aliran sungai. Posko-posko darurat didirikan di titik-titik strategis untuk memastikan kebutuhan dasar pengungsi, seperti makanan, air bersih, dan layanan kesehatan, dapat terpenuhi. Selain itu, proses normalisasi sungai dan pembersihan material longsor di jalur transportasi utama tengah dipercepat guna memulihkan aksesibilitas wilayah yang terisolasi.
Dalam upaya mitigasi jangka pendek, tim gabungan juga memetakan daerah rawan longsor susulan di sepanjang DAS Rongkong guna mengantisipasi potensi bencana lanjutan akibat struktur tanah yang labil pascabanjir. Bencana banjir bandang di Luwu Utara ini kembali menyoroti kerawanan hidrometeorologis yang tinggi di kawasan DAS bagian hulu, terutama di wilayah Sulawesi Selatan. Pemerintah daerah didesak untuk segera menyusun rencana aksi percepatan rehabilitasi lahan kritis di daerah tangkapan air, serta melakukan normalisasi sungai secara periodik. Langkah mitigasi jangka panjang, seperti penataan ruang berbasis risiko bencana dan penguatan sistem peringatan dini, menjadi rekomendasi strategis untuk mengurangi dampak serupa di masa mendatang.