Banjir bandang melanda tiga kecamatan di Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Senin, 23 Agustus 2026, sekitar pukul 14.00 WITA. Peristiwa ini dipicu oleh hujan deras dengan intensitas tinggi yang berlangsung selama enam jam, mengakibatkan meluapnya Sungai Seko dan Sungai Rongkong. Ketinggian air mencapai empat meter di sejumlah titik, menyebabkan tiga desa terisolir dan kerusakan infrastruktur yang signifikan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu Utara mencatat korban jiwa sebanyak dua orang meninggal dunia, empat orang hilang, serta 500 unit rumah terendam banjir. Pemerintah daerah segera menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat penanganan bencana ini, dengan koordinasi lintas instansi termasuk Basarnas, Polres Luwu Utara, dan TNI.
Dampak Bencana dan Wilayah Terisolir
Banjir bandang menerjang tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Sabbang, Baebunta, dan Limbong. Tiga desa yang terisolir total adalah Desa Buntu Batu, Desa Limbong, dan Desa Salu Tapok. Akses ke desa-desa tersebut terputus akibat jembatan yang rusak, sehingga menghambat distribusi bantuan logistik dan evakuasi warga. Data kerusakan infrastruktur yang tercatat oleh BPBD Luwu Utara meliputi:
- 10 kilometer jalan rusak
- 3 unit jembatan hancur
- 2 unit irigasi rusak
Posko pengungsian didirikan di empat titik untuk menampung 2.000 jiwa warga yang terdampak. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, Polres Luwu Utara, dan TNI dikerahkan untuk melakukan pencarian korban hilang, sementara helikopter dari Pangkalan TNI AU Hasanuddin dikerahkan untuk dropping logistik ke desa-desa yang terisolir. Wilayah terdampak berada di lereng Pegunungan Latimojong, yang memiliki indeks kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang dan longsor susulan. Pemetaan kerawanan di kawasan ini perlu diperkuat untuk mengantisipasi potensi bencana serupa di masa mendatang.
Upaya Penanganan dan Catatan Kerawanan Wilayah
Pemerintah Kabupaten Luwu Utara melalui Bupati Indah Putri Indriani menetapkan status tanggap darurat pada pukul 16.00 WITA, sebagai langkah respons cepat terhadap bencana ini. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga menyiagakan alat berat untuk membantu pemulihan infrastruktur, terutama perbaikan jalan dan jembatan yang rusak. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras melanda, mengingat kondisi topografi wilayah yang rawan bencana. Berdasarkan data BPBD, kerawanan di Luwu Utara memerlukan pemetaan yang lebih komprehensif untuk mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
Sebagai catatan strategis, Pemerintah Daerah Luwu Utara bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) perlu segera melakukan evaluasi terhadap sistem peringatan dini bencana di wilayah pegunungan Latimojong. Rekomendasi utama mencakup penguatan infrastruktur penahan air, rehabilitasi jaringan irigasi, serta penyusunan rencana kontingensi bencana yang melibatkan partisipasi masyarakat. Pemetaan kerawanan secara periodik juga penting untuk menjaga kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir bandang dan longsor susulan di kawasan rawan.