Banjir bandang menerjang Kecamatan Rongkong, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Senin pagi, 24 Agustus 2026. Peristiwa ini dipicu oleh hujan deras yang berlangsung selama tiga jam tanpa henti, menyebabkan debit Sungai Rongkong meluap dan merendam pemukiman warga. Berdasarkan laporan resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu Utara, banjir dengan ketinggian mencapai 3 meter telah menggenangi 12 desa di wilayah tersebut. Tim gabungan dari TNI, Polri, dan Badan SAR Nasional (Basarnas) segera dikerahkan untuk melakukan evakuasi dan pencarian korban hilang.
Dampak Banjir Bandang terhadap Infrastruktur dan Akses Warga
Banjir bandang yang menerjang Luwu Utara tidak hanya menyebabkan kerugian materiel, tetapi juga mengisolasi belasan desa dan memutus akses jalan utama. Kepala BPBD Luwu Utara melaporkan bahwa sebanyak 1.200 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, sementara 5 warga dilaporkan hilang dan masih dalam proses pencarian oleh tim SAR. Kerusakan infrastruktur yang signifikan meliputi:
- Jembatan penghubung antar-desa mengalami kerusakan parah, menghambat mobilitas warga dan distribusi logistik.
- Jaringan listrik di beberapa titik terputus akibat tiang listrik tumbang dan kabel terendam air, menyebabkan pemadaman total di wilayah terdampak.
- Akses jalan utama menuju Kecamatan Rongkong terputus total, sehingga bantuan darurat harus disalurkan melalui jalur alternatif yang sulit dilalui.
Kondisi ini semakin mempersulit upaya evakuasi dan pendistribusian bantuan bagi para pengungsi yang membutuhkan makanan, air bersih, dan layanan kesehatan darurat. Pemerintah Kabupaten Luwu Utara mencatat bahwa 12 desa yang terisolasi meliputi wilayah dengan topografi berbukit dan rawan longsor, meningkatkan risiko bencana susulan.
Langkah Penanganan Darurat oleh Pemerintah Daerah dan Tim Gabungan
Pemerintah Kabupaten Luwu Utara melalui BPBD segera mendirikan posko darurat di Lapangan Kecamatan Rongkong sebagai pusat komando penanganan bencana. Posko ini berfungsi sebagai titik koordinasi bagi tim SAR, TNI, Polri, dan relawan dalam melakukan pencarian korban hilang serta penyaluran bantuan. Selain itu, dapur umum dan tenda pengungsian telah disiapkan untuk menampung 1.200 jiwa yang mengungsi. Bupati Luwu Utara menginstruksikan seluruh perangkat daerah untuk bergerak cepat dan memprioritaskan keselamatan warga. Sampai berita ini diturunkan, tim gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap 5 warga yang dilaporkan hilang. Evakuasi dilakukan dengan menggunakan perahu karet dan alat berat untuk membersihkan material banjir yang menghalangi akses. Kondisi cuaca yang masih tidak menentu menjadi tantangan utama dalam operasi penyelamatan. Pemerintah daerah juga telah mengoordinasikan bantuan logistik dari provinsi dan pusat untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.
Sebagai catatan strategis, peristiwa banjir bandang di Luwu Utara ini mengingatkan pemerintah daerah akan pentingnya penguatan sistem mitigasi bencana di wilayah rawan. Rekomendasi yang dapat diajukan antara lain pemetaan ulang daerah rawan banjir dan longsor, pembangunan infrastruktur tanggul dan drainase yang lebih memadai, serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana melalui simulasi dan edukasi rutin. Langkah-langkah ini diharapkan mampu meminimalkan risiko dan dampak bencana serupa di masa mendatang, serta memperkuat ketahanan wilayah Kabupaten Luwu Utara.