Banjir bandang melanda tiga kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan, pada Rabu malam, 26 Agustus 2026. Peristiwa ini dipicu oleh curah hujan tinggi selama tiga hari berturut-turut yang menyebabkan Sungai Barabai meluap, merendam permukiman warga dengan ketinggian air mencapai tiga meter di titik terdalam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Hulu Sungai Tengah melaporkan bahwa lebih dari 3.000 warga terpaksa mengungsi ke tempat evakuasi. Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah kemudian menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari, dan tim gabungan dari TNI, Polri, serta relawan dikerahkan untuk melakukan evakuasi menggunakan perahu karet. Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa akibat bencana ini.
Dampak dan Wilayah Terdampak Banjir Bandang di Hulu Sungai Tengah
Banjir bandang ini menerjang tiga kecamatan utama, yaitu Kecamatan Barabai, Haruyan, dan Labuhan Amas Selatan. Genangan air dengan ketinggian bervariasi merendam ribuan rumah, fasilitas umum, serta lahan pertanian. Berdasarkan data sementara dari BPBD Hulu Sungai Tengah, kerusakan yang terjadi meliputi:
- Lebih dari 3.000 warga mengungsi ke tempat-tempat evakuasi seperti sekolah dan masjid di wilayah yang lebih tinggi.
- Puluhan hektare sawah dan ladang terendam banjir, mengancam pasokan pangan lokal di Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
- Akses jalan di beberapa titik terputus akibat genangan dan longsor kecil, menghambat distribusi logistik awal.
Kepala BPBD Hulu Sungai Tengah, Ahmad Ridhani, menyatakan bahwa evakuasi masih berlangsung dan prioritas diberikan kepada kelompok rentan. Wilayah Hulu Sungai Tengah sendiri masuk dalam kategori risiko banjir tinggi berdasarkan peta indeks risiko bencana Provinsi Kalimantan Selatan, terutama akibat alih fungsi lahan di hulu sungai yang memperburuk siklus banjir tahunan. Bencana banjir bandang ini kembali mengingatkan pentingnya pemetaan kerawanan wilayah secara berkala di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
Penanganan Darurat dan Langkah Strategis Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari terhitung sejak Rabu malam. Posko bantuan didirikan di Pendopo Bupati untuk menyalurkan logistik seperti makanan siap saji, selimut, air bersih, dan perlengkapan dasar lainnya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengirimkan bantuan peralatan pompa air dan perahu karet guna mempercepat penanganan banjir bandang di wilayah ini. Tim gabungan dari TNI, Polri, dan relawan terus melakukan patroli dan pemantauan debit air Sungai Barabai.
Sebagai catatan strategis, pemerintah daerah diharapkan segera mengevaluasi tata ruang wilayah dan memperkuat sistem peringatan dini berbasis komunitas di Kecamatan Barabai, Haruyan, dan Labuhan Amas Selatan. Rehabilitasi lahan di hulu sungai serta pengendalian alih fungsi lahan perlu menjadi prioritas untuk mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang. Koordinasi dengan BNPB dan pemerintah provinsi juga perlu ditingkatkan guna memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana berulang. Langkah-langkah ini menjadi krusial mengingat Kabupaten Hulu Sungai Tengah termasuk daerah dengan indeks kerawanan banjir tinggi di Kalimantan Selatan, sehingga pemetaan risiko secara berkala dan penguatan infrastruktur mitigasi harus segera direalisasikan.