Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu Utara melaporkan bahwa bencana banjir bandang telah menerjang 12 desa di Kecamatan Rongkong dan Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Selasa, 1 September 2026. Peristiwa hidrometeorologi ini dipicu oleh luapan Sungai Rongkong di wilayah hulu akibat hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Akibatnya, sebanyak 2.500 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi aman, sementara pemerintah daerah melalui tim gabungan segera melakukan evakuasi dan penanganan darurat.
Dampak Bencana dan Indikator Kerawanan Wilayah
Berdasarkan laporan sementara BPBD Kabupaten Luwu Utara, dampak banjir bandang tersebar di dua kecamatan yang rentan terhadap bencana karena kondisi geografisnya yang berada di daerah hulu dan aliran sungai. Data awal yang dihimpun dari lapangan menunjukkan beberapa indikator kerawanan dan dampak signifikan, antara lain:
- Sebanyak 12 desa di Kecamatan Rongkong dan Kecamatan Seko terendam banjir bandang.
- Sebanyak 2.500 jiwa terpaksa mengungsi ke posko dan lokasi aman.
- Tiga unit jembatan gantung di wilayah terdampak terputus akibat terjangan arus sungai.
- Akses jalan kabupaten sepanjang 15 kilometer tertutup material lumpur.
- Debit air Sungai Rongkong diperkirakan mencapai 1.000 meter kubik per detik, atau tiga kali lipat dari kondisi normal.
Data tersebut mengonfirmasi tingginya tingkat kerawanan wilayah Kecamatan Rongkong dan Seko terhadap bencana banjir bandang. Kondisi geografis sebagai daerah hulu dan aliran sungai menjadikan kedua kecamatan ini sangat rentan ketika intensitas hujan tinggi, sehingga proses evakuasi harus berjalan cepat untuk mengurangi risiko korban jiwa dan memastikan keselamatan warga.
Koordinasi Penanganan Darurat dan Rekomendasi Strategis
Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI/Polri, dan relawan telah diterjunkan menggunakan perahu karet untuk mempercepat evakuasi warga di wilayah terdampak. Posko pengungsian didirikan di halaman Kantor Camat Seko dengan dukungan dapur umum dari Dinas Sosial Kabupaten Luwu Utara. Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani, menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari untuk memperkuat koordinasi antarinstansi dalam penanganan bencana. Pemerintah Kabupaten Luwu Utara menyatakan kebutuhan mendesak berupa tambahan perahu karet, tenda pengungsi, dan air bersih untuk mendukung operasi evakuasi dan layanan dasar pengungsi. Kapolres Luwu Utara AKBP M. Syahrial melaporkan bahwa tiga unit jembatan gantung terputus dan akses jalan kabupaten sepanjang 15 kilometer tertutup material lumpur, sehingga distribusi bantuan menjadi tantangan utama di lapangan. BPBD memperkirakan debit air Sungai Rongkong mencapai 1.000 meter kubik per detik, jauh di atas normal, dan kondisi ini masih berpotensi bertambah jika hujan kembali turun.
Banjir bandang di Luwu Utara ini menjadi pengingat bagi pemerintah daerah untuk memperkuat sistem peringatan dini dan pemetaan rawan bencana di wilayah hulu. Pemerintah Kabupaten Luwu Utara direkomendasikan untuk mengintegrasikan data kerawanan dari BPBD ke dalam rencana tata ruang wilayah, serta meningkatkan kapasitas infrastruktur mitigasi seperti tanggul dan jalur evakuasi di Kecamatan Rongkong dan Seko. Langkah antisipatif ini penting guna mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang dan melindungi keselamatan masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir bandang.