Banjir bandang akibat hujan dengan intensitas tinggi melanda tiga kecamatan di Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Selasa malam, 11 Agustus 2026. Data sementara yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu Utara mencatat lebih dari 2.000 kepala keluarga terdampak bencana ini. Ratusan unit rumah warga terendam air dan lumpur, sementara akses jalan poros Masamba-Rampi terputus akibat longsoran material dan genangan, sehingga mengisolasi sejumlah desa di wilayah terdampak.
Dampak Bencana dan Wilayah Terdampak
Berdasarkan laporan awal dari tim reaksi cepat BPBD, tiga kecamatan yang mengalami dampak paling parah meliputi Kecamatan Masamba, Kecamatan Sabbang, dan Kecamatan Baebunta. Ketiga wilayah ini berada di kawasan rawan bencana hidrometeorologi yang kerap memicu banjir bandang setiap musim hujan tiba. Tim gabungan yang terdiri dari unsur SAR, TNI, Polri, dan relawan telah dikerahkan untuk melakukan evakuasi warga yang terjebak di lokasi terdampak serta mendistribusikan bantuan logistik ke titik-titik pengungsian.
- Kecamatan Masamba: wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak akibat genangan air mencapai ketinggian 1,5 meter di beberapa kelurahan.
- Kecamatan Sabbang: akses transportasi lumpuh total akibat longsor di ruas jalan utama, menghambat distribusi bantuan awal.
- Kecamatan Baebunta: sejumlah desa pesisir sungai terisolasi akibat aliran deras yang merendam permukiman.
Respons Pemerintah Daerah dan Status Tanggap Darurat
Pemerintah Kabupaten Luwu Utara telah menetapkan status tanggap darurat bencana banjir bandang sejak Selasa malam. Langkah ini diambil untuk mempercepat proses penanganan dampak bencana, termasuk evakuasi pengungsi dan pemulihan infrastruktur publik. Sejumlah titik pengungsian resmi telah dibuka di gedung sekolah dan kantor desa untuk menampung ribuan warga yang terdampak. BPBD bersama Dinas Pekerjaan Umum setempat saat ini fokus melakukan pembersihan jalur utama yang tertutup material longsor serta penilaian kerusakan infrastruktur, seperti jembatan dan jaringan irigasi, guna mempercepat normalisasi wilayah.
Catatan strategis: Kejadian banjir bandang ini kembali menegaskan perlunya penguatan sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi di daerah rawan, khususnya di wilayah Sulawesi Selatan. Pemerintah daerah disarankan untuk segera melakukan pemetaan ulang zona kerawanan dan meningkatkan kapasitas infrastruktur drainase serta tanggul di tiga kecamatan terdampak guna mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang.