Pascagempa tektonik bermagnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, telah memicu pembentukan empat kubangan besar akibat pergerakan tanah dan batuan di kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Badan Geologi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah telah mengonfirmasi temuan ini melalui survei lapangan terpadu, mengidentifikasi volume air yang signifikan terkandung dalam cekungan-cekungan alam tersebut. Kondisi ini menempatkan daerah aliran sungai (DAS) hilir dalam status siaga terhadap potensi bencana sekunder.
Pemetaan Kerentanan dan Analisis Risiko Pascagempa di Sigi
Berdasarkan laporan hasil survei tim gabungan, keempat kubangan terbentuk di zona inti Taman Nasional Lore Lindu akibat longsoran material yang dipicu guncangan gempa kuat. Analisis awal menunjukkan bahwa struktur tanah di sekitar kubangan rentan terhadap peluluhan apabila terpapar curah hujan tinggi. Pemerintah Kabupaten Sigi, didukung oleh instansi teknis provinsi, kini berfokus pada pemetaan rinci yang meliputi:
- Koordinat pasti dan dimensi masing-masing kubangan.
- Volume air estimatif dan karakteristik material penyusun tanggul alam.
- Jalur-jalur aliran potensial (anak sungai) yang menghubungkan lokasi kubangan dengan permukiman di hilir.
- Kepadatan penduduk dan aset infrastruktur di zona rawan terdampak.
Strategi Mitigasi dan Kewaspadaan Daerah Menghadapi Ancaman Banjir Bandang
Menyikapi temuan potensi jebolnya kubangan yang dapat memicu banjir bandang, BPBD Sulawesi Tengah bersama Balai Taman Nasional Lore Lindu telah mengimplementasikan langkah-langkah mitigasi berbasis pengawasan. Langkah-langkah tersebut mencakup:
- Pemasangan alat pemantauan sederhana dan penanda ketinggian air di sekitar lokasi kubangan.
- Peningkatan frekuensi patroli terpadu oleh petugas Taman Nasional dan personel BPBD untuk memantau perubahan fisik kubangan dan kondisi tanggul alam.
- Program edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya yang bermukim di sepanjang bantaran sungai yang berhulu dari kawasan Lore Lindu, untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama pada puncak musim hujan.
Selain itu, pemerintah daerah Kabupaten Sigi telah mengaktifkan prosedur komunikasi dan koordinasi dengan BPBD tingkat provinsi serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Tujuannya adalah untuk menerima informasi dini terkait prakiraan cuaca ekstrem yang dapat meningkatkan tekanan hidrostatis pada kubangan. Simulasi jalur dan kecepatan aliran material juga sedang dikembangkan untuk memprediksi waktu tempuh banjir bandang hingga mencapai kawasan permukiman.
Pascagempa ini memberikan pembelajaran penting bagi pemerintah daerah mengenai kerentanan wilayah terhadap bencana multi-hazard. Rekomendasi strategis untuk Pemerintah Kabupaten Sigi dan pemerintah daerah lainnya di kawasan rawan gempa adalah mengintegrasikan data kerawanan pascagempa—seperti titik-titik longsor dan pembentukan kubangan—ke dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Rencana Kontinjensi Daerah. Langkah ini akan memastikan bahwa aspek mitigasi bencana sekunder, termasuk ancaman banjir bandang dari kawasan konservasi, mendapatkan alokasi sumber daya dan perhatian kebijakan yang memadai dalam pembangunan jangka menengah dan panjang.