Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) masih menghadapi situasi kritis akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang belum sepenuhnya teratasi. Hingga 30 Agustus 2026, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalteng, Ahmad Toyib, melaporkan bahwa masih terdapat 15 titik api yang belum berhasil dipadamkan. Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran, langsung memerintahkan optimalisasi operasi pemadaman, termasuk pengerahan lima unit helikopter water bombing untuk menjangkau lokasi-lokasi sulit di wilayah rawan. Rapat koordinasi penanganan Karhutla yang dipimpin langsung oleh gubernur di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur, Palangka Raya, menjadi respons atas meluasnya dampak kebakaran yang mengancam keselamatan warga dan lingkungan.
Pemetaan Kerawanan dan Sebaran Titik Api Karhutla di Kalteng
Berdasarkan data yang dihimpun BPBD Provinsi Kalteng, jumlah titik panas tercatat mencapai 38.916 titik dengan total luas lahan terbakar mencapai 60.028,77 hektare, sebagaimana dilaporkan oleh masing-masing daerah. Angka ini menunjukkan tingkat kerawanan yang tinggi, terutama di wilayah-wilayah yang menjadi fokus operasi pemadaman. Karakteristik lahan gambut yang sulit dipadamkan serta risiko kabut asap yang mengganggu aktivitas warga menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Berikut adalah daerah dengan tingkat kerawanan dan dampak tertinggi:
- Palangka Raya – ibu kota provinsi dengan konsentrasi penduduk padat dan infrastruktur vital
- Pulang Pisau – wilayah gambut yang rawan api bawah tanah
- Kapuas – daerah dengan luas lahan gambut terbesar di Kalteng
- Kotawaringin Timur (Sampit) – pusat industri dan permukiman yang terdampak asap
- Katingan – kawasan konservasi dan lahan pertanian yang terbakar
- Seruyan – wilayah perbatasan dengan potensi penyebaran api ke provinsi tetangga
Pemetaan kerawanan ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk memprioritaskan alokasi sumber daya dan personel, mengingat karakteristik lahan gambut yang sulit dipadamkan serta risiko kabut asap yang mengganggu aktivitas warga. Wilayah-wilayah tersebut menjadi prioritas dalam operasi water bombing dan pemadaman darat.
Upaya Pemadaman dan Antisipasi Dampak Kabut Asap
Operasi gabungan penanganan Karhutla di Kalteng telah mengerahkan 7.208 personel dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan relawan. Target personel terus ditingkatkan menjadi 10.700 personel untuk memperkuat pemadaman darat, terutama di wilayah terdampak. Selain itu, Pemerintah Provinsi Kalteng mengoptimalkan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk mendukung operasional 28 Satgas TNI/Polri dan 79 Satgas BPBD. Upaya pencegahan juga dilakukan melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) periode keempat yang berlangsung sejak 26 Agustus hingga 2 September 2026, guna memicu hujan buatan di area rawan. Pemerintah memastikan penyediaan posko terpadu, air bersih, vitamin, masker, dan fasilitas oksigen bagi warga terdampak kabut asap di berbagai lokasi, terutama di Palangka Raya dan Kotawaringin Timur yang mencatat kualitas udara tidak sehat.
Sebagai catatan strategis, Pemerintah Provinsi Kalteng perlu memperkuat koordinasi lintas sektor dan meningkatkan kapasitas satgas di tingkat kabupaten/kota, khususnya dalam deteksi dini titik api serta percepatan pemadaman di lahan gambut. Penggunaan water bombing berbasis data titik panas secara real-time dapat meminimalkan perluasan kebakaran. Selain itu, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan dan rehabilitasi lahan pasca-kebakaran harus menjadi prioritas jangka menengah untuk mengurangi risiko Karhutla yang berulang setiap musim kemarau. Langkah ini penting agar keselamatan warga dan keberlanjutan lingkungan di Kalimantan Tengah tetap terjaga.