Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta secara resmi meningkatkan status Gunung Merapi dari Waspada menjadi Siaga pada Jumat, 5 September 2026, pukul 09.00 WIB. Peningkatan status ini dipicu oleh lonjakan signifikan kegempaan vulkanik dan deformasi lereng yang mencapai 5 sentimeter, mengindikasikan pergerakan magma yang semakin intensif. BPPTKG mencatat luncuran awan panas guguran (APG) sejauh 2,5 kilometer ke arah Kali Kuning dan Kali Gendol, yang mengancam permukiman di lereng barat daya dan selatan. Pemerintah Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten segera merespons dengan mengaktifkan pos pengungsian dan mempersiapkan jalur evakuasi.
Pemetaan Jalur Evakuasi dan Kesiapsiagaan Logistik di Sleman dan Magelang
Pemerintah Kabupaten Sleman, sebagai wilayah paling terdampak, langsung memetakan ulang jalur evakuasi menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS). Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Makwan, melaporkan bahwa jalur evakuasi khusus untuk warga Dusun Balerante, Cangkringan, dan Kepuharjo telah diperbarui. Rincian data evakuasi yang dipersiapkan meliputi:
- Jumlah penduduk yang akan dievakuasi: 3.500 jiwa di zona rawan bahaya III, tersebar di Kecamatan Cangkringan, Pakem, dan Turi, Kabupaten Sleman.
- Kesiapsiagaan logistik untuk 14 hari ke depan, termasuk kebutuhan dasar seperti kamar mandi darurat, air bersih, dan masker, yang ditetapkan oleh Bupati Sleman.
- Pemetaan jalur evakuasi alternatif menuju titik kumpul di Lapangan Denggung, Sleman, dan Maguwoharjo untuk mengurangi kepadatan arus.
Di Kabupaten Magelang, yang meliputi Kecamatan Dukun dan Sawangan, TNI dan Polri melakukan patroli teritorial untuk memastikan tidak ada warga yang kembali ke zona terlarang. Patroli mencakup radius 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi, sesuai imbauan BPPTKG. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Boyolali dan Klaten menyiagakan posko di Kecamatan Selo dan Kemalang, serta menyiapkan kendaraan angkutan untuk evakuasi massal.
Indikator Kerawanan dan Rekomendasi Strategis bagi Pemerintah Daerah
Data BPPTKG menunjukkan peningkatan gempa vulkanik dangkal (VTB) dari rata-rata 10 kali per hari menjadi 35 kali per hari dalam sepekan terakhir, dengan amplitudo maksimal 15 mm. Deformasi lereng yang diukur menggunakan tiltmeter di Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) di Jogjakarta menunjukkan kenaikan 5 sentimeter pada sisi barat laut dan selatan, mengarah ke Kali Kuning dan Kali Gendol. Indikator kerawanan ini memperkuat potensi ancaman awan panas guguran dan lahar hujan. BPPTKG mengimbau warga dan pengunjung untuk tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari puncak, serta melarang aktivitas pendakian sementara waktu.
Catatan strategis untuk Pemerintah Daerah: Mengingat status Siaga yang meningkat dari status waspada sebelumnya, optimalisasi koordinasi lintas daerah antara Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten melalui forum komunikasi bencana menjadi prioritas. Pemerintah daerah perlu memastikan jalur evakuasi di kawasan padat penduduk pada radius terdampak tetap terbuka dan bebas hambatan, serta logistik untuk 14 hari ke depan terdistribusi secara merata. Langkah ini krusial untuk meminimalkan risiko saat evakuasi darurat jika terjadi eskalasi aktivitas Gunung Merapi.