Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, secara resmi menetapkan status tanggap darurat bencana banjir bandang yang melanda tiga distrik di wilayahnya. Penetapan ini tertuang dalam Surat Keputusan Darurat Bencana yang ditandatangani Bupati Jayawijaya, Richard Hamong, pada Selasa, 18 Agustus 2026. Status tanggap darurat diambil sebagai respons atas meluapnya debit Sungai Baliem akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama 48 jam berturut-turut sejak Senin, 17 Agustus 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jayawijaya melaporkan bahwa status tanggap darurat ini menjadi langkah awal untuk mengoptimalkan koordinasi penanganan dan mobilisasi sumber daya di lapangan, mengingat dampak signifikan yang terjadi pada pemukiman, infrastruktur, dan akses transportasi.
Dampak Bencana dan Data Terkini Banjir Bandang Jayawijaya
Berdasarkan data yang dihimpun BPBD Jayawijaya, sedikitnya 1.200 jiwa terdampak langsung oleh banjir bandang ini. Kerusakan dan kebutuhan mendesak yang tercatat meliputi:
- Sebanyak 350 unit rumah terendam banjir dengan ketinggian air mencapai satu hingga dua meter di beberapa titik pemukiman.
- Akses jalan utama yang menghubungkan Distrik Wamena menuju Distrik Tiom putus total akibat tertimbun material longsor dan terkikis arus banjir.
- Jembatan gantung di Kampung Abepura yang menjadi penghubung antar-distrik mengalami kerusakan parah, mengakibatkan isolasi terhadap sebagian masyarakat.
- Tiga distrik terdampak meliputi Distrik Wamena, Distrik Welesi, dan Distrik Tiom dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.
Tim SAR gabungan dari TNI, Polri, dan relawan telah dikerahkan untuk melakukan evakuasi warga ke lima titik pengungsian yang didirikan di halaman kantor distrik masing-masing. Proses evakuasi masih berlangsung, terutama untuk menjangkau lokasi-lokasi terisolasi. Pemerintah daerah terus memantau perkembangan situasi guna memastikan distribusi bantuan tepat sasaran dan optimal.
Upaya Penanganan dan Ancaman Susulan di Wilayah Terdampak
Kepala BPBD Jayawijaya, Yulius Wetipo, melaporkan bahwa ancaman longsor susulan masih tinggi, khususnya di kawasan perbukitan Distrik Welesi. Tim di lapangan terus memantau pergerakan tanah dan debit air sungai untuk mengantisipasi potensi bencana lanjutan. Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan telah mengirimkan bantuan logistik berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, serta perlengkapan darurat lainnya melalui jalur udara menggunakan helikopter Mil Mi-17 milik TNI AU. Bantuan tersebut didistribusikan secara bertahap ke posko-posko pengungsian. Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat menyatakan akan mengirimkan tim asesmen pada 20 Agustus 2026 untuk melakukan evaluasi lebih lanjut terhadap kerusakan dan kebutuhan prioritas jangka menengah.
Catatan strategis untuk Pemerintah Daerah Jayawijaya dan Provinsi Papua Pegunungan: Perlu segera dilakukan pemetaan ulang daerah rawan bencana di wilayah hulu Sungai Baliem serta penguatan sistem peringatan dini berbasis komunitas di setiap distrik rawan banjir bandang dan longsor. Langkah ini penting untuk mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang dan memastikan respons cepat yang terintegrasi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, dan masyarakat.