Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri berhasil menangkap tiga terduga teroris di Desa Toini, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada Rabu, 13 Agustus 2026. Penangkapan ini merupakan pengembangan dari operasi sebelumnya dan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan menjaga keamanan wilayah rawan teror di Poso. Dalam penggeledahan, petugas mengamankan sejumlah barang bukti vital yang memperkuat dugaan keterlibatan mereka dalam jaringan radikal Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Keberhasilan ini menegaskan komitmen aparat dalam menekan potensi ancaman bom dan aksi teroris di daerah yang telah lama menjadi perhatian nasional.
Kronologi Operasi dan Barang Bukti yang Diamankan
Operasi yang digelar sejak dini hari tersebut menyasar sebuah rumah yang diduga menjadi tempat persembunyian para terduga teroris. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, menjelaskan bahwa ketiga tersangka langsung diamankan tanpa perlawanan berarti. Barang bukti yang berhasil disita antara lain:
- 2 kilogram bahan peledak jenis TNT (Trinitrotoluena) yang siap digunakan
- 5 detonator sebagai pemicu ledakan
- Sejumlah dokumen terkait perencanaan aksi teror dan jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT)
Menurut keterangan resmi, ketiga terduga teroris ini diduga kuat merupakan bagian dari sel MIT yang masih aktif bergerak di wilayah Poso. Penangkapan ini menjadi pukulan signifikan bagi kelompok tersebut yang selama ini menjadi perhatian serius aparat keamanan. Keberadaan bom dan detonator menunjukkan potensi ancaman yang tinggi jika tidak segera diantisipasi. Aparat kepolisian terus mendalami keterkaitan para tersangka dengan jaringan teroris yang lebih luas, termasuk mengidentifikasi target dan rencana aksi yang telah disusun.
Respon Pemerintah Daerah dan Upaya Deradikalisasi
Pemerintah Kabupaten Poso bersama TNI dan Polri terus meningkatkan kewaspadaan di daerah yang dikenal sebagai salah satu kantong kerawanan terorisme nasional. Bupati Poso, Darma P. R. M., menyampaikan apresiasi tinggi kepada Detasemen Khusus 88 Antiteror atas keberhasilan penangkapan ini. Ia juga mengimbau warga untuk segera melapor kepada aparat jika menemukan aktivitas mencurigakan di lingkungan masing-masing. “Keamanan wilayah Poso adalah tanggung jawab bersama. Kami tidak ingin daerah ini kembali menjadi basis kegiatan teroris,” tegas Bupati dalam pernyataan resminya.
Upaya deradikalisasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) juga terus berjalan di beberapa desa di Kabupaten Poso. Program ini menyasar mantan kombatan dan masyarakat rentan agar tidak terpapar paham radikal. Sinergi antara pendekatan keras (hard approach) dan lunak (soft approach) dinilai efektif dalam menekan perkembangan jaringan teroris di wilayah tersebut. Dalam tiga tahun terakhir, setidaknya lima desa di Kecamatan Poso Pesisir telah menjadi sasaran program deradikalisasi dan pemberdayaan ekonomi, yang terbukti menurunkan angka rekrutmen kelompok radikal secara signifikan.
Sebagai catatan strategis bagi pemerintah daerah, penting untuk memperkuat partisipasi masyarakat dalam sistem keamanan lingkungan, seperti pembentukan pos keamanan terpadu dan pelatihan deteksi dini bagi perangkat desa. Rekomendasi ini sejalan dengan kebijakan nasional dalam menekan potensi ancaman teroris di wilayah rawan. Dengan kolaborasi yang erat antara aparat dan warga, diharapkan Kabupaten Poso dapat terus menjaga stabilitas dan mencegah munculnya kembali aksi bom yang meresahkan.