Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 5,7 mengguncang Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, pada Sabtu, 5 September 2026, pukul 23.12 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pusat gempa berada di darat pada kedalaman 10 kilometer, sekitar 28 kilometer tenggara Garut. Guncangan dirasakan signifikan di Kecamatan Cikajang, Cisurupan, dan Bayongbong. Menanggapi kejadian ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut segera menurunkan tim reaksi cepat untuk melakukan pendataan dan penanganan darurat.
Analisis Kerawanan dan Dampak Wilayah
Berdasarkan data sementara BPBD Garut yang dihimpun hingga Minggu, 6 September 2026 pagi, gempa bumi ini menyebabkan kerusakan bangunan di sejumlah titik. Kepala BPBD Garut, Asep Kurnia, menyatakan bahwa gempa dipicu oleh aktivitas Sesar Garut Selatan, salah satu sesar aktif di wilayah selatan Jawa Barat. Mengacu pada Peta Gempa Nasional 2025, Kabupaten Garut termasuk dalam zona rawan gempa dengan tingkat seismisitas tinggi. Kondisi ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan struktur bangunan dan mitigasi bencana di wilayah tersebut.
Rincian dampak sementara yang berhasil dihimpun dari tiga kecamatan terdampak adalah sebagai berikut:
- 340 unit rumah mengalami kerusakan ringan berupa retak dinding, tersebar di Kecamatan Cikajang, Cisurupan, dan Bayongbong.
- 2 gedung Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Cikajang dan Cisurupan mengalami kerusakan pada plafon.
- 12 warga dirawat di puskesmas setempat akibat luka ringan saat berhamburan keluar rumah.
- Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Respons Pemerintah Daerah dan Catatan Strategis
Pemerintah Kabupaten Garut melalui BPBD telah mengerahkan tim reaksi cepat untuk melakukan pendataan kerusakan bangunan dan mendistribusikan bantuan logistik bagi warga terdampak. Warga diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, mengingat aktivitas sesar masih berpotensi memicu guncangan lanjutan. BMKG menegaskan bahwa episenter gempa berada di darat, sehingga tidak berpotensi tsunami. Masyarakat diminta tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab.
Kejadian gempa bumi di Garut ini menjadi pengingat perlunya penguatan infrastruktur bangunan, terutama rumah tinggal dan fasilitas publik, agar tahan terhadap guncangan. Selain itu, sosialisasi peta rawan gempa dan prosedur evakuasi perlu ditingkatkan secara berkala. Pemantauan aktivitas Sesar Garut Selatan oleh BMKG dan instansi terkait harus terus diperkuat untuk memberikan peringatan dini yang akurat. Pemerintah Kabupaten Garut juga direkomendasikan untuk mengintegrasikan mitigasi risiko gempa ke dalam rencana tata ruang wilayah, terutama di kecamatan yang berada di jalur sesar aktif.