|  Indonesia, WIB
Beranda Regional Erupsi Eksplosif Gunung Lewotobi Laki-laki: Kolom Abu Capai 18.00...
Regional

Erupsi Eksplosif Gunung Lewotobi Laki-laki: Kolom Abu Capai 18.000 Meter, Warga Diminta Waspada

Erupsi Eksplosif Gunung Lewotobi Laki-laki: Kolom Abu Capai 18.000 Meter, Warga Diminta Waspada

Gunungapi Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT, mengalami erupsi eksplosif dengan kolom abu mencapai 18.000 meter, mengakibatkan status Level IV (Awas). Beberapa desa di Kecamatan Wulanggitang terdampak hujan abu, sementara zona bahaya dengan radius hingga 7 kilometer diberlakukan dan dua bandara ditutup sementara. Pemerintah daerah diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar dan memperkuat sistem penanganan darurat serta perencanaan tata ruang berbasis risiko bencana.

Gunungapi Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami erupsi eksplosif pada Senin, 7 Juli 2026 pukul 11.05 WITA. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kolom abu vulkanik mencapai ketinggian kurang lebih 18.000 meter di atas puncak, setara dengan ketinggian sekitar 19.584 meter di atas permukaan laut (mdpl). Erupsi dengan amplitudo maksimum 47,3 mm dan durasi 6 menit 26 detik ini menandai peningkatan signifikan aktivitas vulkanik di wilayah tersebut. Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur telah menetapkan status gunung pada Level IV (Awas), mengisyaratkan potensi kerawanan wilayah yang tinggi dan memerlukan respons cepat dari seluruh elemen pemerintah daerah.

Dampak Langsung dan Respon Awal Penanganan

Berdasarkan hasil kaji cepat BPBD Flores Timur bersama satuan tugas gabungan, dampak langsung dari erupsi gunungapi ini dirasakan di beberapa desa di Kecamatan Wulanggitang. Wilayah terdampak hujan abu dengan intensitas bervariasi mencakup:

  • Desa Nawakote
  • Desa Klatanlo
  • Desa Hokeng Jaya
  • Desa Boru
  • Desa Pululera

Sebagai upaya mitigasi dampak sebaran abu vulkanik, otoritas penerbangan telah menutup sementara operasi Bandara Larantuka dan Bandara Maumere guna menjamin keselamatan penerbangan. Langkah ini merupakan bagian dari protokol penanganan bencana vulkanik yang diatur dalam peraturan daerah terkait manajemen kerawanan. BPBD Flores Timur telah melakukan distribusi masker kepada warga terdampak dan memastikan ketersediaan logistik darurat sebagai bagian dari respons awal.

Zona Bahaya dan Potensi Ancaman Sekunder

BNPB bersama pemerintah daerah Kabupaten Flores Timur telah mengeluarkan rekomendasi keamanan yang mencakup penetapan zona bahaya dengan radius tertentu. Masyarakat dan wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius 6 kilometer dari pusat erupsi serta di sektor barat daya–timur laut sejauh 7 kilometer. Selain ancaman langsung dari material vulkanik, peningkatan kewaspadaan terhadap potensi bencana sekunder seperti banjir lahar juga diimbau, khususnya di daerah aliran sungai yang berhulu di sekitar kawasan gunungapi. Daerah aliran sungai yang perlu mendapatkan prioritas pemantauan meliputi:

  • Sungai Dulipali
  • Sungai Nobo
  • Sungai Hokeng Jaya
  • Sungai Nurabelen

Pemetaan ulang kerawanan wilayah terhadap bahaya lahar ini menjadi penting bagi pemerintah daerah dalam merencanakan sistem peringatan dini dan jalur evakuasi bagi masyarakat di kawasan rawan.

Erupsi eksplosif Gunung Lewotobi Laki-laki ini menggarisbawahi pentingnya sistem pemantauan berkelanjutan dan koordinasi antar-lembaga dalam manajemen bencana gunungapi. Data amplitudo dan durasi erupsi yang tercatat harus menjadi acuan dalam memperbarui peta bahaya dan zonasi kawasan rawan bagi pemerintah Kabupaten Flores Timur dan provinsi NTT. Kolaborasi antara BNPB, BPBD, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta dinas-dinas terkait di tingkat daerah menjadi kunci dalam mengantisipasi perkembangan aktivitas vulkanik selanjutnya.

Sebagai catatan strategis bagi pemerintah daerah, kejadian ini mengharuskan evaluasi mendalam terhadap rencana kontinjensi penanganan erupsi gunungapi di Flores Timur. Pemerintah daerah perlu memperkuat kapasitas posko darurat, memastikan kesiapan logistik jangka menengah, serta meningkatkan sosialisasi peta jalur evakuasi dan titik kumpul kepada masyarakat di seluruh desa dalam zona bahaya. Integrasi data pemantauan gunungapi dengan sistem perencanaan tata ruang wilayah juga menjadi aspek kritis untuk meminimalkan risiko jangka panjang dan membangun ketangguhan wilayah dalam menghadapi ancaman geologis.

Entitas dalam Berita
Organisasi: Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Flores Timur
Lokasi: Gunung Lewotobi Laki-laki, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Kecamatan Wulanggitang, Desa Nawakote, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, Pululera, Bandara Larantuka, Bandara Maumere, Sungai Dulipali, Nobo, Nurabelen
Berita Terkait