Kementerian Kehutanan (Kemenhut) secara resmi memberlakukan penutupan sementara aktivitas pendakian di sembilan taman nasional mulai 1 September 2026. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor SE.4/KSDAE/SKSDAE/KSA.02.02/B/8/2026 yang ditandatangani Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebagai langkah antisipasi manajemen risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di puncak musim kemarau. Keputusan ini diprioritaskan untuk keselamatan pengunjung dan efisiensi sumber daya pemadaman, mengingat kawasan konservasi membutuhkan personel serta peralatan khusus seperti helikopter water bombing. Langkah strategis ini diambil setelah insiden 170 pendaki terjebak karhutla di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan berdasarkan data Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran (SiPongi) yang menunjukkan 946 titik panas nasional dengan konsentrasi tertinggi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Daftar Taman Nasional yang Ditutup dan Indikator Kerawanan Wilayah
Berikut sembilan taman nasional yang aktivitas pendakiannya ditutup sementara mulai 1 September 2026 beserta indikator kerawanan karhutla di wilayah sekitarnya berdasarkan data Kemenhut dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG):
- Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur) – pernah mengalami karhutla yang menjebak 170 pendaki pada musim kemarau sebelumnya.
- Taman Nasional Kerinci Seblat (Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan) – memiliki luas gambut dan hutan hujan tropis yang rawan kebakaran.
- Taman Nasional Gunung Ciremai (Jawa Barat) – konsentrasi titik panas di daerah Jawa Barat bagian utara.
- Taman Nasional Tambora (Nusa Tenggara Barat) – risiko tinggi karena vegetasi kering dan angin kencang.
- Taman Nasional Manusela (Maluku) – kawasan karst dengan akses pemadaman terbatas.
- Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah) – berada di wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi nasional.
- Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Jawa Barat) – jalur pendakian populer dekat perkotaan.
- Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh, Sumatera Utara) – ekosistem penting yang rawan gangguan.
- Taman Nasional Lorentz (Papua) – jalur tertentu ditutup karena medan ekstrem dan risiko karhutla di musim kemarau.
Data SiPongi per Agustus 2026 mencatat 946 titik panas, dengan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menyumbang 40% dari total tersebut. BMKG memprediksi kemarau kering hingga Oktober 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia, meningkatkan potensi karhutla di kawasan konservasi.
Latar Belakang Kebijakan dan Rekomendasi untuk Pemerintah Daerah
Kebijakan penutupan ini diambil berdasarkan evaluasi bencana karhutla tahun sebelumnya dan proyeksi iklim. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa pemadaman karhutla di taman nasional memerlukan sumber daya besar, termasuk helikopter water bombing dan tim khusus, sehingga penutupan lebih efektif daripada mempertaruhkan nyawa personel dan pengunjung. Pemerintah daerah di sekitar taman nasional yang ditutup dihimbau untuk bersinergi dengan Kemenhut dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan calon pendaki, serta menyiapkan rencana kontijensi jika karhutla meluas ke area di luar kawasan konservasi. Rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah adalah mengoptimalkan patroli terpadu, memperkuat sistem peringatan dini berbasis data SiPongi, dan mengalokasikan anggaran khusus untuk pengadaan peralatan pemadaman dasar di tingkat desa sekitar taman nasional. Langkah antisipatif ini diharapkan dapat meminimalkan risiko korban jiwa serta kerusakan ekosistem yang bernilai tinggi.