Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah meningkatkan status aktivitas Gunung Ijen dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) efektif pada Senin, 15 Juni 2026. Peningkatan status ini berlaku di wilayah administratif perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur. Keputusan ini menandai eskalasi dalam pengawasan bahaya geologi dan mendorong implementasi tindakan mitigasi bencana yang lebih ketat oleh otoritas daerah setempat.
Parameter Peningkatan Status dan Pemetaan Kerawanan
Peningkatan status menjadi Siaga didasarkan pada pemantauan terpadu yang menunjukkan indikator kerawanan gunung api yang meningkat secara signifikan. Pemetaan kerawanan sistematis oleh PVMBG mengidentifikasi beberapa parameter kritis:
- Peningkatan aktivitas seismik yang menunjukkan pergerakan magma dan tekanan internal.
- Deformasi atau perubahan bentuk tubuh gunung yang terukur.
- Perubahan komposisi kimia air di Danau Kawah Ijen, sebagai penanda aktivitas vulkanik di bawah permukaan.
Langkah Mitigasi dan Koordinasi Pemerintah Daerah
Sebagai respons langsung terhadap penetapan status siaga, PVMBG mengeluarkan rekomendasi pembatasan zona berbahaya. Seluruh aktivitas manusia, termasuk operasi penambangan belerang tradisional dan kegiatan pariwisata, dilarang dalam radius 3 kilometer dari kawah Gunung Ijen. Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuwangi dan BPBD Kabupaten Bondowoso telah mengaktifkan langkah-langkah koordinasi terpadu:
- Aktivasi posko pengawasan dan command center 24 jam.
- Sosialisasi rencana evakuasi dan jalur penyelamatan kepada masyarakat di desa-desa dengan tingkat kerawanan tinggi, terutama Desa Kalianyar dan Desa Jambu.
- Penguatan sistem peringatan dini dan komunikasi darurat antar-desa.
Pemetaan kerawanan wilayah yang telah dilakukan memungkinkan identifikasi tepat terhadap komunitas terdampak potensial. Fokus pada desa-desa tertentu menunjukkan pendekatan berbasis data dalam alokasi sumber daya kesiapsiagaan. Status siaga ini bukan hanya terkait keselamatan fisik, tetapi juga implikasinya terhadap stabilitas sosial-ekonomi wilayah, mengingat Gunung Ijen merupakan pusat kegiatan ekonomi lokal melalui pariwisata dan pertambangan belerang.
Bagi pemerintah daerah Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, situasi ini memerlukan evaluasi menyeluruh terhadap rencana kontinjensi dan kesiapan logistik. Koordinasi lintas-sektoral, melibatkan dinas pariwisata, perhubungan, sosial, dan kesehatan, menjadi krusial untuk mengelola dampak sekunder dari peningkatan status ini. Pemantauan berkelanjutan dan komunikasi transparan dengan masyarakat merupakan pilar penting dalam menjaga ketertiban dan kepercayaan publik selama periode status siaga.