Pusat Studi Bencana Universitas Andalas (Unand) merilis temuan krusial berupa pemetaan kerawanan erupsi gunung api di Provinsi Sumatra Barat pada 25 April 2026. Laporan analisis teritorial ini berfokus pada tiga gunung api aktif utama: Gunung Marapi, Gunung Talang, dan Gunung Tandikat. Pemetaan ini disusun berdasarkan data monitoring Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), catatan sejarah erupsi, serta analisis demografi penduduk di dalam zona radius bahaya, yang menghasilkan gambaran komprehensif mengenai tingkat ancaman di wilayah administratif tertentu.
Peta Kerawanan dan Zonasi Wilayah Administratif
Hasil Pusat Studi Bencana Unand menunjukkan bahwa tiga kabupaten tercatat memiliki tingkat kerawanan tertinggi terhadap ancaman erupsi gunung api. Analisis spasial dan demografis memetakan secara rinci desa-desa yang masuk dalam kategori zona merah, yaitu area dalam radius 5 kilometer dari kawah gunung api yang dianggap paling rentan. Wilayah-wilayah tersebut adalah:
- Kabupaten Agam: Terdampak terutama dari aktivitas Gunung Marapi dan potensi aliran sekunder.
- Kabupaten Tanah Datar: Berada dalam zona pengaruh Gunung Marapi dan Gunung Tandikat.
- Kabupaten Solok: Berada di sekitar zona bahaya Gunung Talang dan Gunung Tandikat.
Secara keseluruhan, terdapat 67 desa yang teridentifikasi berada dalam zona merah. Selain kerawanan primer dari material erupsi, laporan ini juga mengidentifikasi dengan jelas ancaman kerawanan sekunder. Ancaman ini berupa potensi aliran lahar panas yang mengikuti alur sungai utama, yaitu Batang Agam, Batang Selo, dan Batang Sinamar, yang dapat memperluas jangkauan dampak bencana hingga ke wilayah hilir.
Rekomendasi Strategis untuk Mitigasi dan Penguatan Sistem
Berdasarkan temuan pemetaan tersebut, Pusat Studi Bencana Unand memberikan sejumlah rekomendasi strategis yang ditujukan kepada Pemerintah Provinsi Sumatra Barat dan pemerintah daerah terkait. Rekomendasi ini dirancang untuk memperkuat kapasitas mitigasi dan kesiapsiagaan di tingkat tapak. Poin-poin utama rekomendasi mencakup:
- Memperkuat infrastruktur dan sistem komunikasi peringatan dini hingga ke tingkat desa di kawasan rawan.
- Menyiapkan dan menandai jalur evakuasi alternatif yang memadai untuk mengantisipasi terputusnya akses utama.
- Melaksanakan simulasi atau gladi lapangan penanggulangan bencana erupsi secara berkala dan terukur melibatkan seluruh unsur masyarakat dan pemerintah desa.
Implementasi rekomendasi ini diharapkan dapat menurunkan kerentanan dan meningkatkan ketangguhan masyarakat. Untuk mendukung perencanaan pembangunan yang berbasis risiko, data pemetaan kerawanan ini direncanakan akan diintegrasikan ke dalam Sistem Informasi Geografis Daerah (SIGD) Provinsi Sumatra Barat. Integrasi data ini akan memudahkan pemerintah daerah dalam mengakses, menganalisis, dan memutakhirkan informasi kerawanan sebagai dasar penyusunan kebijakan, tata ruang, dan alokasi anggaran yang tepat sasaran.
Pemetaan yang dilakukan oleh Pusat Studi Bencana Unand ini merupakan langkah fundamental dalam pengelolaan risiko bencana geologi yang berbasis data ilmiah. Pemerintah daerah di Kabupaten Agam, Tanah Datar, dan Solok didorong untuk segera mengadopsi temuan ini ke dalam dokumen perencanaan daerah, seperti RPJMD dan RAD PB, serta meningkatkan koordinasi antar-OPD dan dengan BPBD Provinsi. Keberlanjutan pemantauan dan evaluasi terhadap implementasi rekomendasi menjadi kunci untuk memastikan bahwa upaya pengurangan risiko bencana erupsi gunung api di Sumatra Barat berjalan efektif dan terukur.