|  Indonesia, WIB
Beranda Analisis Kajian BNPB: 157 Kecamatan di Jawa Barat Masuk Kategori Rawan Ban...
Analisis

Kajian BNPB: 157 Kecamatan di Jawa Barat Masuk Kategori Rawan Banjir dan Longsor Musim Penghujan 2026/2027

Kajian BNPB: 157 Kecamatan di Jawa Barat Masuk Kategori Rawan Banjir dan Longsor Musim Penghujan 2026/2027

BNPB memetakan 157 kecamatan di Jawa Barat sebagai wilayah rawan banjir dan longsor untuk periode penghujan 2026/2027. Klaster kerentanan tertinggi berada di Bogor Raya, Bandung Barat, dan Cianjur Selatan. Kajian ini menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam menyusun rencana kontinjensi dan mengalokasikan anggaran mitigasi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah merilis pemetaan terbaru yang menetapkan 157 kecamatan di Provinsi Jawa Barat masuk dalam kategori wilayah dengan kerawanan hidrometeorologi tinggi hingga sedang. Penetapan ini tercantum dalam Kajian Risiko Bencana per 30 Mei 2026, dengan fokus ancaman banjir dan tanah longsor pada periode musim penghujan 2026/2027. Kecamatan-kecamatan rawan tersebut tersebar di 18 kabupaten dan kota di Jawa Barat, berdasarkan analisis data historis, topografi, tutupan lahan, serta prediksi curah hujan dari BMKG.

Analisis Spasial dan Klaster Kerentanan di Jawa Barat

Kajian BNPB mengidentifikasi klaster kerentanan tertinggi yang terkonsentrasi pada beberapa zona kritis di Provinsi Jawa Barat. Degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS) dan alih fungsi lahan di kawasan penyangga menjadi faktor pemicu dominan. Berikut rincian wilayah dengan indeks kerentanan tertinggi berdasarkan pemetaan tersebut:

  • Wilayah Bogor Raya, meliputi Kabupaten Bogor dan Kota Bogor.
  • Kabupaten Bandung Barat.
  • Kabupaten Cianjur, khususnya pada bagian selatan.

Analisis lebih lanjut menempatkan DAS Citarum, Cisadane, dan Cimanuk sebagai sistem sungai dengan urgensi rehabilitasi tertinggi. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan tata kelola wilayah secara terintegrasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi keharusan dalam mengelola kerawanan bencana di Jawa Barat.

Kerangka Respon dan Koordinasi Antar-Lembaga Daerah

Sebagai tindak lanjut operasional, BNPB telah menyampaikan laporan kajian kepada Gubernur Jawa Barat dan seluruh kepala daerah di wilayah terindikasi untuk dijadikan acuan dalam penyusunan rencana kontinjensi. Untuk mendorong koordinasi teknis, Deputi Bidang Pencegahan BNPB akan menggelar rapat bersama Dinas PUPR Provinsi, BPBD Jawa Barat, serta perwakilan Kementerian LHK. Intervensi jangka pendek difokuskan pada dua program prioritas:

  • Penyiapan sistem peringatan dini berbasis komunitas di 500 titik rawan.
  • Pelatihan dan pemantapan kapasitas relawan siaga bencana di tingkat desa.

Langkah-langkah ini dirancang untuk membangun ketahanan dari tingkat tapak sekaligus mendukung sistem komando darurat di tingkat kabupaten/kota.

Dokumen kajian risiko bencana ini berfungsi sebagai arahan strategis yang mengikat bagi pemerintah daerah dalam proses penganggaran. Pemerintah daerah diimbau untuk mengalokasikan anggaran mitigasi secara proporsional, berpedoman pada peta kerawanan yang telah disusun. Sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, dengan supervisi dari BNPB, menjadi kunci untuk menurunkan tingkat kerawanan dan meningkatkan kesiapsiagaan wilayah menghadapi musim penghujan 2026/2027.

Entitas dalam Berita
Organisasi: BNPB, BMKG, Dinas PUPR Provinsi, BPBD Jawa Barat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Lokasi: Jawa Barat, Bogor Raya, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur, DAS Citarum, DAS Cisadane, DAS Cimanuk
Berita Terkait