|  Indonesia, WIB
Beranda Regional Waspada Pergerakan Tanah di Lereng Gunung Muria, Kudus-Mpati Diim...
Regional

Waspada Pergerakan Tanah di Lereng Gunung Muria, Kudus-Mpati Diimbau Siap Siaga

Waspada Pergerakan Tanah di Lereng Gunung Muria, Kudus-Mpati Diimbau Siap Siaga

Badan Geologi mengeluarkan peringatan dini gerakan tanah di lereng Gunung Muria, Kudus-Pati-Jepara, berdasarkan data curah hujan ekstrem. Zona rawan mencakup 22 desa, direspons dengan evakuasi pre-emptif dan sosialisasi. Analisis kerentanan menyoroti faktor antropogenik dan perubahan tata guna lahan sebagai penyebab utama meningkatnya risiko.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah mengeluarkan Peringatan Dini Potensi Gerakan Tanah di lereng Gunung Muria, yang mencakup Kabupaten Kudus, Pati, dan Jepara di Provinsi Jawa Tengah. Peringatan ini berlaku hingga 5 Mei 2026 dan didasarkan pada data anomali curah hujan dari Pos Pengamatan BMKG di Colo, Dawe, Kudus. Kondisi hidrometeorologis ekstrem tersebut meningkatkan risiko bencana gerakan tanah pada kawasan dengan struktur tanah dan batuan tertentu di sekitar kaki gunung.

Zonasi Kerawanan dan Respons Awal Pemerintah Daerah

Badan Geologi telah memetakan zona rawan gerakan tanah, mengidentifikasi 22 desa masuk kategori bahaya tinggi hingga sedang. Desa tersebut tersebar di:

  • Kabupaten Kudus: Kecamatan Dawe, Gebog, dan Kaliwungu
  • Kabupaten Pati: Kecamatan Sukolilo dan Kayen

Merespons status ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kudus dan Pati telah mengaktivasi sistem peringatan dini berbasis komunitas serta melakukan sosialisasi door-to-door di zona merah. Langkah operasional awal termasuk:

  • Evakuasi pre-emptif terhadap 45 Kepala Keluarga di Dusun Gondosari, Desa Cranggang, Kecamatan Gebog, Kudus
  • Inspeksi teknis infrastruktur drainase oleh tim gabungan BPBD, Satpol PP, dan dinas terkait
  • Pemasangan rambu peringatan di jalur transportasi kategori rawan

Indikator utama yang memicu peringatan adalah curah hujan di atas 150 milimeter per hari secara berturut-turut selama tiga hari, yang menunjukkan kondisi lereng sangat rentan terhadap gerakan massa tanah.

Analisis Kerentanan Jangka Panjang dan Faktor Antropogenik

Analisis pemetaan kerentanan jangka panjang menyoroti bahwa faktor antropogenik telah signifikan mengurangi stabilitas lereng. Aktivitas pertanian intensif di lereng atas dan perubahan tata guna lahan dari kawasan berhutan menjadi lahan terbuka meningkatkan beban dan mengurangi daya dukung tanah. Karakteristik geomorfologi lereng Gunung Muria secara alami sudah rentan, sehingga perubahan ini mempercepat risiko gerakan tanah. Mengatasi kerentanan ini memerlukan pendekatan struktural berkelanjutan.

Sebagai langkah antisipatif struktural, Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Dinas Lingkungan Hidup menginisiasi program restorasi vegetasi dan stabilisasi lereng pada zona rawan tinggi. Upaya ini dirancang untuk memperkuat daya dukung tanah dan mengurangi dampak aktivitas antropogenik. Koordinasi lintas kabupaten di wilayah lereng Gunung Muria diperlukan agar program mitigasi efektif dan konsisten.

Untuk pemerintah daerah terkait, catatan strategis meliputi: intensifikasi pemantauan hidrologi dan geologi, revisi regulasi tata guna lahan berbasis zonasi kerawanan, serta integrasi sistem peringatan dini antara kabupaten. Pembangunan infrastruktur mitigasi, seperti drainase dan penahan tanah, perlu diprioritaskan pada desa dengan kategori bahaya tinggi. Koordinasi regional antar Kabupaten Kudus, Pati, dan Jepara dalam manajemen risiko lereng Gunung Muria akan meningkatkan respons dan mengurangi kerugian akibat bencana gerakan tanah.

Entitas dalam Berita
Organisasi: Badan Geologi Kementerian ESDM, BMKG, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kudus
Lokasi: Lereng Gunung Muria, Kabupaten Kudus, Pati, Jepara, Mpati, Jawa Tengah, Colo, Dawe, Kecamatan Dawe, Gebog, Kaliwungu, Sukolilo, Kayen, Dusun Gondosari, Desa Cranggang
Berita Terkait