Sebanyak 287 Kepala Keluarga (KK) penyintas erupsi Gunung Ruang telah memulai relokasi permanen pada Selasa, 13 Agustus 2024, ke Hunian Tetap (Huntap) Modisi di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Provinsi Sulawesi Utara. Perpindahan ini merupakan langkah strategis penanganan pasca bencana yang diimplementasikan secara kolaboratif oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Bolsel bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta instansi terkait, guna mengatasi kerawanan wilayah pasca-aktivitas vulkanik Gunung Ruang di Kepulauan Sitaro.
Implementasi Relokasi Terstruktur untuk Pengurangan Kerawanan Wilayah
Relokasi warga dari Pulau Ruang menandai transisi kritis dari fase tanggap darurat ke fase rekonstruksi dan rehabilitasi yang terstruktur. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan telah menyelesaikan proses administrasi kependudukan dengan menetapkan secara resmi seluruh 287 KK sebagai warga Desa Modisi, Kecamatan Bolangitang Selatan. Penetapan status kependudukan ini merupakan langkah fundamental untuk mengintegrasikan warga relokasi ke dalam struktur pemerintahan dan tata kelola pembangunan desa setempat. Huntap Modisi dibangun dengan pendekatan pembangunan berkelanjutan yang mempertimbangkan aspek sosial-ekonomi dan lingkungan sebagai pondasi stabilitas kehidupan jangka panjang pasca bencana.
Dukungan Komprehensif dalam Pemulihan Pasca Bencana dan Integrasi Sosial
Untuk memastikan keberhasilan transisi dan meminimalkan dampak sosial, pemerintah melalui skema penanganan korban bencana telah mengalokasikan paket bantuan komprehensif. Dukungan utama yang diberikan meliputi komponen-komponen berikut:
- Bantuan Dana Jatah Hidup selama tiga bulan sebagai modal awal pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat eks Pulau Ruang di Huntap Modisi.
- Layanan Kesehatan 24 Jam dengan penempatan tenaga medis tetap di lokasi Huntap untuk mengantisipasi kebutuhan kesehatan, termasuk penanganan trauma pasca bencana.
- Pembangunan Infrastruktur Huntap Terstandar yang meliputi unit hunian, sarana air bersih, sanitasi, dan ruang publik sesuai standar hunian tetap pasca bencana.
Pendekatan holistik ini menunjukkan penanganan kerawanan wilayah yang mengintegrasikan aspek kemanusiaan, penataan administrasi, dan pembangunan fisik secara simultan. Relokasi dari Pulau Ruang ke Bolsel menjadi studi kasus nyata penanganan wilayah rawan bencana geologi. Keberhasilan tahap evakuasi darurat kini dilanjutkan dengan fase rekonstruksi yang berfokus pada pembangunan kembali kehidupan sosial-ekonomi komunitas terdampak. Sementara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau aktivitas Gunung Ruang, pemerintah daerah kini berkonsentrasi pada penciptaan lingkungan hunian yang aman dan produktif di lokasi baru yang lebih rendah risiko.
Sebagai catatan strategis bagi pemerintah daerah, keberlanjutan program relokasi ini perlu didukung dengan langkah-langkah pascapemukiman yang lebih intensif. Rekomendasi utama mencakup percepatan integrasi ekonomi melalui program pemberdayaan masyarakat di Desa Modisi, monitoring ketat terhadap adaptasi sosial-ekonomi warga relokasi, serta penguatan koordinasi lintas sektor antara Pemda Bolsel, BNPB, dan kementerian terkait untuk menjamin ketahanan wilayah dari dampak bencana Gunung Ruang secara berkelanjutan.