Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) korban kecelakaan KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, yang berada dalam wilayah tanggung jawab Kantor SAR Banjarmasin, memasuki hari kesebelas pada Kamis (24/9/2026). Peristiwa kecelakaan kapal ini menimbulkan dampak signifikan terhadap keselamatan pelayaran di perairan Kalimantan Selatan, sehingga Pemerintah Daerah bersama Basarnas dan TNI AL terus memperkuat upaya evakuasi korban. Kepala Kantor SAR Banjarmasin, I Putu Sudayana, selaku SAR Mission Coordinator, menyatakan bahwa penguatan kapasitas evakuasi menjadi prioritas utama dalam operasi SAR terpadu ini.
Penguatan Evakuasi Udara untuk Percepatan Penanganan Korban
Untuk mempercepat proses evakuasi korban yang masih terjebak di dalam kapal yang tenggelam, Basarnas menyiagakan tiga unit helikopter. Helikopter tersebut terdiri dari HR-3601 dan HR-3604 milik Basarnas, serta satu unit helikopter Panther milik TNI AL yang akan bergabung memperkuat operasi. Langkah ini menunjukkan koordinasi lintas instansi yang solid antara Basarnas dan TNI AL dalam menghadapi situasi darurat transportasi laut yang kompleks di wilayah perairan Kalimantan Selatan. Tim penyelam gabungan yang terdiri dari Basarnas Special Group (BSG), Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Koppeba), serta Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL melaksanakan tiga sortie penyelaman dari KN SAR Pacitan pada hari yang sama.
Hasil dari tiga sortie penyelaman tersebut, tim berhasil mengevakuasi sembilan korban menuju KN SAR Pacitan. Dari jumlah tersebut, tujuh korban telah dievakuasi melalui jalur udara menggunakan helikopter HR-3601 milik Basarnas, sementara dua korban lainnya masih berada di dalam kapal. Proses evakuasi melalui jalur udara dinilai efektif untuk menjangkau lokasi kapal yang tenggelam di tengah laut, mengingat kondisi cuaca dan gelombang yang kadang tidak memungkinkan akses laut secara langsung. Data dari Basarnas Banjarmasin menunjukkan bahwa evakuasi udara mempersingkat waktu tempuh dan meminimalisir risiko bagi tim penyelamat.
Koordinasi Operasi SAR dan Implikasi bagi Pemerintah Daerah
Operasi SAR hari ke-11 ini melibatkan elemen penting dari TNI AL, khususnya melalui kehadiran helikopter Panther yang memperkuat mobilitas evakuasi. Koordinasi antara Basarnas dan TNI AL dalam operasi kecelakaan kapal ini merupakan contoh baik sinergi antar lembaga dalam penanganan bencana transportasi laut. Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarmasin sebagai pusat koordinasi, diharapkan dapat mengambil pelajaran berharga dari kejadian ini untuk memperkuat sistem keselamatan pelayaran di wilayah tersebut.
Beberapa poin penting yang perlu dicermati oleh pemerintah daerah terkait operasi SAR ini antara lain:
- Perlunya peningkatan kapasitas sarana dan prasarana evakuasi udara di wilayah perairan Kalimantan Selatan, mengingat tingginya risiko kecelakaan kapal di jalur laut yang padat.
- Pentingnya penyusunan protokol tanggap darurat yang terintegrasi antara Basarnas, TNI AL, dan pemerintah daerah untuk mempercepat penanganan korban.
- Evaluasi terhadap sistem navigasi dan pengawasan keselamatan kapal di perairan Banjarmasin untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Sebagai catatan strategis, Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan dan Kota Banjarmasin disarankan untuk segera berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan Basarnas dalam rangka penguatan regulasi keselamatan transportasi laut. Operasi evakuasi KM Virgo Transport 8 menunjukkan bahwa kesiapsiagaan dan kolaborasi antar institusi menjadi kunci utama dalam meminimalisir korban jiwa. Ke depan, perlu dilakukan pemetaan kerawanan wilayah perairan Banjarmasin sebagai dasar perencanaan mitigasi bencana transportasi laut yang lebih komprehensif.