Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara telah mengimplementasikan Sistem Informasi Geospasial dan Pemantauan Banjir Bandang (SIGAB-BB), sebuah sistem pemantauan digital berbasis sensor yang difokuskan pada Kawasan Rawan Banjir Bandang di daerah aliran sungai Lawe Alas. Implementasi ini merupakan respons strategis Pemkab terhadap kejadian bencana banjir bandang pada awal tahun 2026 yang mengakibatkan kerusakan permukiman dan gangguan pada jalur transportasi nasional. Inisiatif dengan nilai investasi Rp 3,5 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Pemkab Aceh Tenggara, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Universitas Syiah Kuala.
Implementasi Teknologi Pemantauan di Kawasan Rawan Banjir Bandang Lawe Alas
Sistem SIGAB-BB telah dipasang di sepuluh titik kawasan rawan sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Lawe Alas, dengan cakupan wilayah mencakup tiga kecamatan utama di Kabupaten Aceh Tenggara:
- Kecamatan Lawe Alas
- Kecamatan Babul Makmur
- Kecamatan Darul Hasanah
System ini mengintegrasikan komponen teknologi untuk pengumpulan data secara komprehensif sebagai bagian dari sistem peringatan dini yang efektif. Komponen utama meliputi sensor tingkat ketinggian air (water level) untuk pemantauan real-time volume air, sensor curah hujan otomatis (Automatic Rain Gauge/ARG) untuk pengukuran intensitas presipitasi, dan kamera CCTV pemantau visual di lokasi-lokasi kritis. Data dari seluruh sensor dikirimkan secara kontinu ke pusat kendali di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara.
Integrasi Sistem dengan Struktur Pemerintahan Desa dan Mekanisme Peringatan Dini
Mekanisme operasional sistem dirancang untuk mengoptimalkan waktu tanggap darurat. Apabila parameter yang dipantau—seperti ketinggian air atau curah hujan—melewati ambang batas yang telah ditentukan, sistem akan mengaktifkan peringatan dini secara otomatis. Notifikasi peringatan disalurkan melalui dua jalur utama: pesan SMS dan aplikasi khusus yang ditujukan kepada kepala desa serta relawan di 15 desa yang berada di zona terdampak, termasuk:
- Gampong Kutacane Lama
- Gampong Perapat Talukh
Bupati Aceh Tenggara, H. Raidin Pinim, menegaskan bahwa implementasi SIGAB-BB merupakan bagian integral dari strategi pembangunan berkelanjutan dan penguatan ketahanan wilayah Aceh terhadap ancaman alam, khususnya banjir bandang. Integrasi teknologi pemantauan digital dengan jaringan pemerintah desa dan komunitas diharapkan dapat meningkatkan kapasitas lokal dalam mengelola risiko bencana secara mandiri dan efektif.
Secara strategis, keberadaan sistem berbasis sensor ini juga berfungsi sebagai langkah preventif untuk mengantisipasi potensi kerusakan infrastruktur publik dan gangguan terhadap aktivitas ekonomi di kawasan rawan. Rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah lainnya adalah mempertimbangkan integrasi sistem pemantauan digital berbasis sensor dengan struktur pemerintahan desa, serta melakukan kajian kerawanan wilayah secara berkala untuk menentukan titik pemasangan dan ambang batas parameter yang tepat, sehingga investasi teknologi dapat memberikan dampak maksimal dalam mitigasi bencana.