Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), tengah mengintensifkan penanganan dampak gempa bumi bermagnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah inti di Kota Palu serta sejumlah wilayah sekitarnya pada Rabu (26/3/2025). Koordinasi respons cepat difokuskan pada empat wilayah administrasi terdampak utama, yaitu Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Poso, guna menangani dampak fisik maupun sosial yang timbul pascakejadian.
Fokus Penanganan Medis dan Antisipasi Korban Luka di Fasilitas Kesehatan
Fokus utama pemerintah daerah saat ini adalah memastikan keselamatan dan layanan kesehatan bagi warga terdampak. Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A. Lamadjido, memastikan bahwa pelayanan kesehatan berjalan memadai untuk menangani korban luka. Hingga Rabu petang, tercatat lima orang menjadi korban luka ringan dan sedang dirawat di fasilitas kesehatan setempat. Sebagai bagian dari antisipasi bencana kesehatan dalam situasi darurat, pemerintah provinsi telah menyiapkan langkah-langkah peningkatan kapasitas penanganan medis, termasuk opsi pendirian tenda darurat untuk mendukung pelayanan jika situasi memburuk atau terjadi korban luka tambahan.
Pemetaan Kerusakan Infrastruktur dan Analisis Kerawanan Wilayah Terdampak
Berdasarkan laporan terbaru BPBD Sulawesi Tengah, dampak gempa telah memicu kerusakan infrastruktur di beberapa wilayah administrasi. Pemetaan detail ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menetapkan skala prioritas rehabilitasi dan penilaian kerawanan wilayah. Data kerusakan yang telah dipetakan adalah sebagai berikut:
- Kota Palu: Terjadi keretakan pada struktur Jembatan III serta beberapa bangunan mengalami kerusakan hingga tingkat roboh.
- Kabupaten Sigi: Terdapat kerusakan pada sejumlah bangunan, terjadi longsor di area Gunung Kamarora, dan saluran air terputus.
- Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Poso: Dampak gempa dirasakan dengan kerusakan bangunan, serta akses jalan di wilayah Napu, Poso, yang rusak dan masih dalam proses pendataan intensif.
Secara paralel, situasi kegempaan pascakejadian utama terus dipantau secara ketat. BPBD mencatat hingga pukul 13.38 WITA telah terjadi puluhan gempa susulan dengan komposisi: 1 kali gempa M5, 10 kali gempa M4, 31 kali gempa M3, dan 4 kali gempa M2. Meskipun hasil pemodelan BMKG menunjukkan gempa tidak berpotensi tsunami, karakteristik gempa dangkal dengan kedalaman sekitar 10 kilometer tetap menimbulkan risiko signifikan terhadap kerusakan bangunan dan infrastruktur di permukaan. Kejadian ini sekaligus menguatkan indikator kerawanan seismik di Sulawesi Tengah bagian tengah.
Pemetaan kerusakan yang telah dilakukan oleh BPBD dan pemerintah daerah terdampak menjadi landasan kritis bagi perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi yang terarah. Data spasial ini memungkinkan analisis tingkat kerentanan infrastruktur publik dan permukiman di setiap wilayah administrasi, sehingga langkah mitigasi struktural dapat difokuskan pada titik-titik paling kritis.
Kejadian gempa ini mendorong perlunya evaluasi ulang mendesak terhadap ketahanan struktur bangunan dan infrastruktur publik di wilayah-wilayah yang teridentifikasi rawan gempa di provinsi ini. Koordinasi intensif dan berjenjang antara pemerintah provinsi dan daerah harus terus dilaksanakan tidak hanya untuk respons darurat, tetapi juga untuk mengoptimalkan mitigasi risiko lanjutan jangka panjang. Antisipasi bencana yang lebih sistematis, termasuk penguatan standar bangunan tahan gempa dan edukasi kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan, menjadi catatan strategis yang perlu diprioritaskan pemerintah daerah dalam agenda pembangunan wilayah ke depan.