Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) TNI bersama Bea Cukai berhasil menangkap dua warga negara asing (WNA) asal Malaysia yang diduga terlibat penyelundupan 100 kilogram sabu-sabu melalui jalur tikus di Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Penangkapan berlangsung pada dini hari di kawasan perbatasan Entikong, saat kedua pelaku membawa barang bukti yang disembunyikan dalam karung beras. Keberhasilan ini menegaskan bahwa kerawanan wilayah perbatasan Bengkayang masih menjadi konsentrasi utama aparat keamanan, khususnya dalam menghadapi aktivitas jaringan kejahatan transnasional yang memanfaatkan celah perbatasan darat Indonesia–Malaysia.
Pemetaan Kerawanan dan Penguatan Pengawasan di Perbatasan Bengkayang
Komandan Satuan Tugas Pamtas RI–Malaysia menyatakan bahwa jalur tikus yang digunakan para pelaku sudah lama dikenal sebagai titik rawan penyelundupan narkoba dan barang ilegal. Kondisi geografis perbatasan darat Indonesia–Malaysia di Kalimantan Barat yang membentang sepanjang 1.000 kilometer menyisakan banyak titik buta yang kerap dieksploitasi oleh jaringan kejahatan terorganisir. Dalam rangka merespons temuan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bengkayang bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menggelar rapat khusus untuk membahas peningkatan pengawasan di pos lintas batas dan pemasangan perangkat pemantau berupa CCTV di sejumlah titik rawan. Berikut sejumlah poin utama dalam upaya pengamanan perbatasan Kabupaten Bengkayang:
- Penangkapan dua WNA Malaysia dengan barang bukti 100 kilogram sabu-sabu di jalur tikus Kecamatan Jagoi Babang;
- Perpanjangan patroli gabungan TNI, Polri, dan Bea Cukai di sepanjang perbatasan darat Kalbar–Malaysia;
- Pemasangan CCTV di titik rawan sebagai bagian dari sistem pengawasan berbasis teknologi;
- Pembaruan pemetaan kerawanan setiap bulan di kawasan perbatasan Bengkayang;
- Penguatan koordinasi antara Pemkab Bengkayang dan Forkopimda dalam pencegahan kejahatan transnasional.
Sinergi Forkopimda dan Aparat Keamanan dalam Pencegahan Kejahatan Transnasional
Langkah kolaboratif antara pemerintah daerah dan aparat keamanan menjadi kunci dalam menekan angka penyelundupan di perbatasan Bengkayang. Kehadiran TNI, Polri, dan Bea Cukai dalam satgas pengamanan perbatasan tidak hanya difokuskan pada aspek penindakan, tetapi juga pada upaya intelijen dan pencegahan dini. Kapolres Bengkayang menegaskan bahwa pengamanan di perbatasan Bengkayang akan diperketat menjelang akhir tahun, seiring proyeksi peningkatan aktivitas ilegal yang biasanya terjadi pada momentum tertentu. Langkah ini juga didukung dengan pembaruan peta kerawanan wilayah yang akan dilakukan setiap bulan, sehingga aparat memiliki data terkini untuk memetakan area rawan penyelundupan, peredaran narkoba, hingga potensi gangguan keamanan lainnya. Kepala daerah melalui rapat koordinasi khusus yang digelar Forkopimda diharapkan mampu merumuskan kebijakan yang adaptif terhadap dinamika kerawanan di lapangan.
Sebagai catatan strategis, Pemerintah Kabupaten Bengkayang direkomendasikan untuk terus memperkuat sistem pengawasan berbasis teknologi, seperti pemasangan CCTV terintegrasi dan pengembangan sistem pelaporan masyarakat. Selain itu, penguatan patroli bersama dengan aparat keamanan di titik-titik rawan perlu diimbangi dengan program pemberdayaan ekonomi masyarakat perbatasan guna mengurangi ketergantungan pada aktivitas ilegal. Sinergi antara pemda, Forkopimda, dan aparat keamanan harus menjadi prioritas dalam menjaga stabilitas keamanan teritorial di perbatasan Bengkayang, Kalbar, agar celah yang dimanfaatkan jaringan penyelundupan dapat diminimalisir secara berkelanjutan.