Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Plt. Kepala Pusat Krisis Kesehatan Budiman mengonfirmasi bahwa pemantauan dampak bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terhadap kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, dilakukan di tujuh provinsi yang mencakup 63 kabupaten dan kota. Pemantauan difokuskan pada kelompok rentan di wilayah dengan kualitas udara berbahaya, yaitu anak-anak, sebagai respons terstruktur pemerintah pusat dan daerah dalam menghadapi bencana kabut asap lintas wilayah yang kerap terjadi setiap musim kemarau.
Pemetaan Wilayah Terdampak dan Kondisi Kesehatan Anak
Berdasarkan data Kemenkes dari fasilitas kesehatan di 63 kabupaten dan kota, mayoritas kasus anak terdampak kabut asap masih berada pada tingkat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ringan hingga sedang. Budiman menegaskan bahwa belum ditemukan data anak yang mengalami kondisi parah atau pneumonia akibat bencana kabut asap ini. Meskipun demikian, risiko memburuk tetap ada jika paparan berlanjut, sehingga pemantauan diperketat di wilayah dengan kualitas udara berbahaya, antara lain:
- Provinsi Riau
- Provinsi Jambi
- Provinsi Sumatera Selatan
- Provinsi Kalimantan Barat
- Provinsi Kalimantan Tengah
- Provinsi Kalimantan Selatan
- Provinsi Kalimantan Timur
Prioritas deteksi dini dan intervensi kesehatan diberikan pada wilayah-wilayah tersebut guna menjaga ketahanan masyarakat di tengah bencana kabut asap. Pemerintah daerah di tujuh provinsi terdampak diminta untuk mengintegrasikan data pemantauan kualitas udara dengan data kesehatan masyarakat secara real-time guna mengantisipasi lonjakan kasus ISPA pada anak.
Kesiapan Fasilitas dan Layanan Kesehatan di Daerah
Kemenkes telah menyiapkan sejumlah fasilitas dan logistik kesehatan untuk merespons dampak kabut asap di daerah terdampak. Obat-obatan untuk penanganan ISPA disebutkan dalam jumlah mencukupi, dan layanan kesehatan diperluas mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan. Rincian fasilitas yang disiapkan meliputi:
- Pos kesehatan terpadu yang didirikan bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di beberapa titik strategis.
- Rumah oksigen yang tersedia di lokasi-lokasi dengan konsentrasi polusi tinggi untuk menangani pasien dengan gangguan pernapasan akut.
- Puskesmas dilengkapi dengan oksigen konsentrator dan tabung oksigen sebagai cadangan untuk kasus darurat.
Tenaga kesehatan di wilayah terdampak telah mendapat arahan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala ISPA, terutama pada anak-anak. Koordinasi antara puskesmas, rumah sakit, dan BNPB terus diperkuat agar respons dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Pemerintah daerah diminta untuk memastikan ketersediaan masker dan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya di sekolah-sekolah, guna meminimalkan risiko paparan langsung terhadap kabut asap.
Sebagai catatan strategis, pemerintah daerah di tujuh provinsi terdampak perlu mengintegrasikan data pemantauan kualitas udara dengan data kesehatan masyarakat secara real-time. Rekomendasi ini penting untuk mengantisipasi lonjakan kasus ISPA dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana kabut asap berulang. Langkah tersebut juga mendukung upaya perlindungan kesehatan masyarakat, khususnya kelompok anak-anak yang paling rentan terhadap dampak Karhutla.