Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), saat ini tengah menghadapi tantangan serius dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Bukit Sampana, Desa Sembalun. Peristiwa yang bermula pada Selasa (9/6/2026) sore itu hingga siang hari Rabu (10/6/2026) belum sepenuhnya dapat dikendalikan oleh tim gabungan yang dipimpin oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Rinjani Timur beserta unsur terkait. Situasi ini menjadikan wilayah kaki Gunung Rinjani tersebut sebagai area prioritas penanganan bencana lingkungan tingkat lokal.
Kondisi Kerusakan dan Faktor Kerawanan Wilayah
Berdasarkan laporan lapangan dari Kepala Seksi Perlindungan KPHL Rinjani Timur, Lalu Iskandar, perkiraan luas lahan terdampak kebakaran hingga pukul 11.00 WITA telah mencapai 116 hektar. Data pemantauan dari basecamp operasi menunjukkan setidaknya delapan titik panas (hotspot) yang masih aktif dan berpotensi menyebabkan perluasan area terbakar. Wilayah Lombok Timur, khususnya kawasan perbukitan seperti Bukit Sampana, memiliki beberapa indikator kerawanan yang memperparah situasi, antara lain:
- Kondisi Topografi Ekstrem: Medan berupa tebing curam di kawasan perbukitan kaki Gunung Rinjani yang menghambat mobilitas dan akses tim pemadam.
- Faktor Klimatologis: Adanya angin kencang yang tidak hanya mempersulit operasi pemadaman tetapi juga mempercepat laju penyebaran api ke area hutan di sekitarnya.
- Keterbatasan Sarana Prasarana: Dilaporkan adanya kekurangan peralatan memadai di lapangan, sehingga petugas terpaksa memanfaatkan sumber daya seadanya seperti ranting pohon untuk menjangkau titik api di lokasi sulit.
Respons Pemerintah Daerah dan Tantangan Operasional
Operasi pemadaman yang dilaksanakan merupakan bentuk respons cepat pemerintah daerah Kabupaten Lombok Timur dalam mengatasi bencana ekologis ini. Kolaborasi antara KPHL Rinjani Timur sebagai leading sector dengan instansi terkait mencerminkan penerapan prosedur tetap penanganan darurat. Namun, efektivitas respons tersebut terkendala oleh beberapa faktor operasional yang perlu menjadi perhatian serius bagi pemangku kebijakan di wilayah NTB. Kondisi medan yang berat tidak hanya memperlambat waktu respons, tetapi juga meningkatkan risiko keselamatan bagi personel di lapangan. Lebih jauh, keterbatasan logistik dan alat berat spesifik untuk medan ekstrem menjadi catatan kritis dalam manajemen penanggulangan kebakaran lahan di kawasan topografi khusus.
Kejadian di Bukit Sampana ini juga menyoroti kerentanan kawasan hutan lindung dan perbukitan di Lombok Timur terhadap ancaman karhutla, terutama pada musim kemarau. Perlindungan terhadap kawasan konservasi dan daerah penyangga ekosistem Gunung Rinjani menjadi aspek strategis yang berdampak langsung pada ketahanan lingkungan dan sosial-ekonomi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, penanganan insiden ini tidak hanya bersifat reaktif namun harus dipandang sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap sistem pencegahan dan kesiapsiagaan daerah.
Sebagai rekomendasi strategis, Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur dan Provinsi NTB perlu segera melakukan penilaian mendalam terhadap peta kerawanan karhutla di wilayah perbukitan dan kawasan hutan. Upaya ini harus diikuti dengan penguatan kapasitas logistik, termasuk pengadaan alat pemadam khusus medan berat, serta peningkatan koordinasi terpadu antar-OPD dan masyarakat. Pembentukan posko terpadu dengan sistem pemantauan real-time dan perencanaan kontinjensi berbasis data spasial menjadi langkah imperatif untuk memitigasi risiko serupa di masa depan, sekaligus melindungi aset ekologis dan teritorial daerah dari ancaman bencana berulang.