Gunung Dukono yang terletak di wilayah administrasi Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, mengalami erupsi pada Senin, 4 Mei 2026, pukul 07.46 WIT. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan tinggi kolom abu mencapai sekitar 1.400 meter dari puncak gunung api ini. Sebaran abu vulkanik yang tebal dan berwarna putih hingga kelabu mengarah ke utara dan timur laut, mengikuti pola angin dominan di wilayah tersebut. Kejadian ini menandai peningkatan signifikan aktivitas vulkanik di salah satu gunung paling aktif di Indonesia bagian timur.
Analisis Data Seismik dan Status Kewaspadaan
Berdasarkan pemantauan instrumen seismik, erupsi tercatat memiliki amplitudo maksimum 10 mm dengan durasi 58,18 detik. Parameter ini mengindikasikan tekanan magma yang cukup kuat di dalam sistem vulkanik Gunung Dukono. Aktivitas erupsi dilaporkan masih berlangsung saat laporan awal dirilis, sehingga potensi letusan susulan tetap terbuka. Status resmi gunung api ini tetap dipertahankan pada Level II (Waspada) sesuai dengan skala kewaspadaan yang ditetapkan oleh PVMBG. Pemerintah Daerah Maluku Utara dan Kabupaten Halmahera Utara telah diinstruksikan untuk meningkatkan kewaspadaan teritorial di zona rawan bencana.
Pemetaan Zona Bahaya dan Rekomendasi Evakuasi
PVMBG telah menetapkan zona bahaya dengan radius 4 kilometer dari Kawah Malupang Warirang sebagai area terlarang bagi aktivitas masyarakat dan wisatawan. Pemetaan kerawanan wilayah menunjukkan beberapa desa yang berpotensi terdampak sebaran abu vulkanik, khususnya yang berada di sektor utara dan timur laut. Untuk memitigasi risiko kesehatan, warga diimbau:
- Menjauh dari zona radius bahaya yang telah ditetapkan
- Menyiapkan dan menggunakan masker pelindung pernapasan
- Mengantisipasi sebaran abu yang tidak menentu berdasarkan arah angin
- Mematuhi arahan dari tim darurat pemerintah daerah setempat
Koordinasi antar instansi pemerintah daerah, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku Utara dan Kabupaten Halmahera Utara, telah diintensifkan untuk memantau perkembangan situasi. Sistem peringatan dini bencana gunung api di wilayah ini telah diaktifkan guna memberikan informasi real-time kepada masyarakat di zona terdampak potensial. Data pemantauan harian akan menjadi acuan utama dalam penyesuaian kebijakan mitigasi bencana di tingkat daerah.
Sebagai catatan strategis untuk pemerintah daerah, erupsi Gunung Dukono ini menggarisbawahi pentingnya memperkuat kapasitas kelembagaan penanggulangan bencana di tingkat kabupaten. Rekomendasi operasional mencakup penyiapan shelter sementara di luar radius bahaya, penguatan logistik kesehatan untuk menangani dampak abu vulkanik, serta sosialisasi berkelanjutan mengenai peta risiko gunung api kepada masyarakat di wilayah teritorial Maluku Utara. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah provinsi dan kabupaten menjadi kunci dalam membangun ketahanan wilayah terhadap ancaman bencana vulkanik yang bersifat periodik ini.