BPBD Provinsi Jawa Timur secara resmi merilis data pemetaan kerawanan bencana hidrometeorologi terbaru untuk 22 kota/kabupaten di wilayahnya, berdasarkan analisis periode Oktober 2025 hingga April 2026. Peluncuran data ini dilakukan pada 31 Mei 2026 dan menjadi instrumen kunci bagi pemerintah daerah dalam mengidentifikasi serta merencanakan langkah mitigasi terhadap ancaman banjir, longsor, dan kekeringan. Data ini diperoleh dari analisis mendalam terhadap empat variabel utama, yaitu curah hujan, pola aliran sungai, tutupan vegetasi, dan kepadatan penduduk, yang menggambarkan kondisi objektif kerentanan wilayah.
Wilayah dengan Indeks Kerawanan Tinggi dan Karakteristik Ancaman
Analisis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mengidentifikasi tujuh wilayah administratif yang masuk dalam kategori indeks kerawanan tinggi. Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, dan Kabupaten Sidoarjo, yang merupakan kawasan metropolitan dan industri utama, menghadapi ancaman utama berupa banjir genangan. Kerawanan ini disebabkan oleh faktor konvergen antara tingginya curah hujan ekstrem, tingkat permeabilitas tanah yang rendah, serta kapasitas sistem drainase perkotaan yang belum optimal menampung limpasan air. Sementara itu, wilayah dengan karakteristik topografis berbeda menghadapi ancaman berbeda pula.
Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember, dengan bentang alam didominasi perbukitan dan lereng terjal, tercatat memiliki kerawanan tinggi terhadap bencana tanah longsor dan banjir bandang. Pemetaan detail menunjukkan bahwa sekitar 15% dari total luas wilayah kedua kabupaten tersebut berada dalam zona merah potensi longsor, yang tersebar di beberapa kecamatan dengan kemiringan lereng kritis. Selain ancaman hidrometeorologi basah, data dari BPBD Jawa Timur juga menyoroti potensi ancaman kekeringan yang akan dihadapi Kabupaten Bondowoso dan sebagian wilayah Kabupaten Malang pada periode musim kemarau mendatang, mengindikasikan kebutuhan strategi adaptasi yang komprehensif.
Distribusi Data dan Rekomendasi Strategis Mitigasi Bencana
Sebagai bagian dari mekanisme koordinasi kebencanaan, data kerawanan bencana hidrometeorologi untuk 22 kota/kabupaten ini telah secara resmi disampaikan kepada pemerintah daerah terkait dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Distribusi data ini dimaksudkan untuk menyelaraskan perencanaan pembangunan dan penanganan darurat di tingkat tapak. Dalam paket data yang disampaikan, BPBD Provinsi Jawa Timur turut melampirkan sejumlah rekomendasi teknis dan kebijakan prioritas yang dirancang berdasarkan karakteristik ancaman di setiap wilayah.
- Program Normalisasi Sungai: Difokuskan pada wilayah-wilayah dengan kerawanan banjir genangan tinggi seperti Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo untuk meningkatkan kapasitas tampung dan kelancaran aliran.
- Pembangunan Infrastruktur Penahan: Pembangunan embung dan struktur penahan longsor di zona merah potensi longsor di Kabupaten Lumajang dan Jember untuk mengurangi risiko gerakan tanah.
- Penyusunan Rencana Kontinjensi: Penyusunan dan simulasi rencana evakuasi terpadu, khususnya untuk wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi seperti Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo, guna meminimalisir korban jiwa saat darurat.
Secara strategis, data pemetaan kerawanan bencana ini akan diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan jangka menengah daerah. Terutama, data ini akan menjadi acuan fundamental dan basis data spasial dalam penyusunan Rencana Aksi Daerah Adaptasi Perubahan Iklim (RAD-API) Provinsi Jawa Timur untuk periode tahun 2027. Integrasi ini menegaskan komitmen untuk mendasarkan kebijakan adaptasi dan mitigasi bencana pada kajian ilmiah dan data terbaru, sehingga intervensi yang dilakukan dapat tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan dalam mengelola risiko bencana hidrometeorologi di seluruh wilayah administrasi di Jawa Timur.