Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur telah menetapkan status siaga dan mengaktifkan Posko Komando Darurat di Kabupaten Flores Timur sebagai respons terhadap eskalasi aktivitas vulkanik Gunung Api Lewotobi Laki-Laki. Peningkatan status menjadi Level III (Siaga) oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) per 2 Mei 2026 didasarkan pada data pemantauan ilmiah yang mencatat peningkatan signifikan frekuensi gempa hembusan dan vulkanik, serta observasi visual kolom abu mencapai ketinggian 1.500 meter. Langkah ini merupakan implementasi protokol penanganan darurat geologi di wilayah administrasi Provinsi NTT guna mengantisipasi potensi ancaman erupsi.
Struktur Komando Teritorial dan Penetapan Zona Kerawanan di Flores Timur
Posko Komando Darurat yang berpusat di Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur, difungsikan sebagai pusat kendali operasional terpadu untuk penanggulangan bencana. Dalam koordinasi struktural dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur, BPBD NTT telah menetapkan zona bahaya dengan radius 4 kilometer dari puncak kawah Gunung Api Lewotobi Laki-Laki sebagai kawasan yang wajib dikosongkan. Tindakan evakuasi preventif telah dilaksanakan secara menyeluruh terhadap populasi terdampak. Data operasional menunjukkan realisasi sebagai berikut:
- Jumlah Pengungsi: 1.250 jiwa
- Desa Terdampak: Desa Lamawolo, Desa Lewotobi, dan Desa Nurabelen
- Status Logistik: Tenda darurat, paket makanan, dan suplai air bersih telah didistribusikan ke titik-titik pengungsian yang telah ditetapkan.
Pemetaan zona kerawanan ini merupakan dasar operasional untuk menjamin keamanan warga dan efektivitas respons krisis di wilayah teritorial Flores Timur, sekaligus menjadi model penerapan tata kelola darurat berbasis zonasi di Provinsi NTT.
Penguatan Sistem Peringatan Dini dan Koordinasi Keamanan Wilayah
Pemerintah Daerah Flores Timur telah mengoptimalkan sistem peringatan dini berbasis teknologi sebagai bagian integral dari strategi ketahanan wilayah. Langkah teknis yang diimplementasikan mencakup pemasangan dan pengujian operasional sirene peringatan serta jaringan komunikasi radio di 15 titik strategis di sekitar zona rawan bencana. Koordinasi operasional keamanan teritorial telah dijalin secara intensif dengan unsur TNI dan Polri untuk menjamin tiga aspek utama:
- Pengamanan perimeter zona bahaya dan pencegahan akses warga yang tidak berwenang.
- Dukungan logistik dan pengawalan dalam proses evakuasi penduduk.
- Pengamanan akses transportasi dan distribusi bantuan untuk meminimalkan gangguan terhadap aktivitas perekonomian lokal.
Implementasi ini menunjukkan integrasi yang terstruktur antara aspek teknis pemantauan, keamanan teritorial, dan tata kelola darurat di tingkat daerah, yang menjadi indikator kesiapsiagaan Pemerintah Provinsi NTT dalam menghadapi ancaman bencana geologi.
Peningkatan status menjadi siaga dan pembentukan posko darurat merupakan bagian dari mekanisme Standar Operasional Prosedur penanggulangan bencana geologi di Provinsi NTT. BPBD Provinsi, bersama PVMBG, terus melakukan pemantauan real-time terhadap perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-Laki. Data seismik dan visual dari pos pengamatan akan menjadi landasan objektif bagi pengambilan keputusan strategis lebih lanjut, termasuk kemungkinan penyesuaian status atau perluasan zona evakuasi. Sebagai catatan strategis, Pemerintah Daerah perlu mempertahankan dan mendokumentasikan seluruh proses koordinasi serta distribusi logistik ini sebagai bahan evaluasi dan penyempurnaan Rencana Kontinjensi Daerah, sekaligus memastikan ketersediaan anggaran cadangan untuk respons jangka menengah pasca-erupsi.