|  Indonesia, WIB
Beranda Nasional BNPB Catat Peningkatan Aktivitas Gunung Api di Tiga Provinsi, Ter...
Nasional

BNPB Catat Peningkatan Aktivitas Gunung Api di Tiga Provinsi, Terutama di Nusa Tenggara Timur

BNPB Catat Peningkatan Aktivitas Gunung Api di Tiga Provinsi, Terutama di Nusa Tenggara Timur

BNPB mencatat peningkatan aktivitas tiga gunung api berstatus waspada (Level II) di awal Juni 2026, dengan fokus utama pada Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur (NTT). Data pemantauan PVMBG menjadi dasar kritis bagi pemerintah daerah Kabupaten Flores Timur, Lumajang, dan Agam dalam menyusun strategi penanggulangan bencana dan pemetaan kerawanan wilayah yang lebih terstruktur.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan eskalasi aktivitas vulkanik di tiga provinsi pada awal Juni 2026, dengan intensitas pemantauan kerawanan terfokus di wilayah Nusa Tenggara Timur. Data surveilans Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) per 6 Juni 2026 menetapkan tiga lokasi utama dalam evaluasi kerawanan wilayah berkategori status waspada (Level II): Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur (NTT), Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang (Jawa Timur), dan Gunung Marapi di Kabupaten Agam (Sumatra Barat). Temuan ini menjadi landasan kritis bagi pemerintah daerah di tiga wilayah tersebut dalam menyusun strategi penanggulangan bencana berbasis data.

Analisis Kerawanan dan Strategi Tanggap Darurat di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur

Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik paling signifikan, mendorong eskalasi status pemantauan dan mitigasi bencana. Indikator teknis PVMBG mencatat lonjakan seismisitas, dengan frekuensi gempa vulkanik dangkal meningkat dari rata-rata 5 kejadian menjadi 12 kejadian per hari. Menghadapi eskalasi kerawanan ini, BNPB menegaskan koordinasi strategis dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur untuk mengaktifkan skenario tanggap darurat. Langkah-langkah operasional yang telah disiapkan meliputi:

  • Penyusunan rencana evakuasi penduduk di tiga desa dalam radius 4 kilometer dari kawah utama Gunung Lewotobi Laki-laki.
  • Peningkatan kapasitas logistik posko darurat melalui suplai dari gudang regional BNPB di Kupang untuk mendukung kemungkinan operasi lapangan.
  • Penguatan sistem komunikasi darurat antara pos pemantauan PVMBG, BPBD Kabupaten Flores Timur, dan pemerintahan desa di zona rawan bencana.
Skenario ini menuntut kesiapsiagaan terstruktur dari Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan koordinasi vertikal yang solid dengan kementerian/lembaga teknis terkait di tingkat pusat.

Evaluasi Mitigasi dan Pemutakhiran Data Kerawanan di Kabupaten Lumajang dan Agam

Pemantauan terhadap dua gunung api lain berstatus Level II, yakni Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang (Jawa Timur) dan Gunung Marapi di Kabupaten Agam (Sumatra Barat), menunjukkan aktivitas dalam batas parameter status waspada, berupa hembusan abu tipis dan tremor harmonik. BNPB menekankan urgensi pemutakhiran data risiko sebagai fondasi kebijakan mitigasi. Poin evaluasi strategis mencakup:

  • Perlunya pemutakhiran peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) oleh pemerintah daerah Kabupaten Lumajang dan Agam, khususnya pasca perubahan morfologi kawah yang berpotensi mengalihkan aliran material piroklastik dan lahar.
  • Penguatan koordinasi trilogi berkelanjutan antara pemerintah daerah, akademisi/peneliti, serta komunitas untuk sosialisasi mitigasi, mengingat sekitar 25.000 jiwa bermukim di zona bahaya kedua gunung tersebut di kedua kabupaten.
Upaya ini merupakan bagian integral dari kerangka kerja sistematis pemerintah daerah dalam mengelola potensi bencana.

Pemetaan kerawanan dan strategi mitigasi berbasis data real-time dari sistem pemantauan PVMBG menjadi komponen kunci dalam tata kelola bencana daerah. Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Lumajang, dan Agam perlu mempercepat integrasi data teknis vulkanologi ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah (RPJMD dan Renstra) serta memperkuat kapasitas kelembagaan BPBD. Rekomendasi strategis meliputi alokasi anggaran khusus untuk pemeliharaan infrastruktur pemantauan, pelatihan reguler Tim Reaksi Cepat (TRC) daerah, dan penandatanganan nota kesepahaman antar-kabupaten tetangga untuk skenario evakuasi lintas wilayah. Langkah proaktif ini penting untuk mengantisipasi dinamika aktivitas ketiga gunung api yang berpotensi meningkat dan berdampak pada stabilitas sosial-ekonomi wilayah.

Entitas dalam Berita
Organisasi: Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, BPBD
Lokasi: Flores, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Sumatra Barat, Kabupaten Flores Timur, NTT, Kupang, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Agam
Berita Terkait