Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari melaporkan terjadinya banjir signifikan yang melanda kawasan permukiman padat di ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara tersebut, pada Kamis (20/3/2025). Insiden ini mengakibatkan korban jiwa satu orang anak dan menyebabkan ratusan unit rumah terendam air dengan ketinggian genangan mencapai 1,5 meter di beberapa titik. Pemerintah Kota Kendari telah menetapkan status siaga darurat dan mengerahkan tim gabungan untuk penanganan darurat.
Analisis Dampak dan Luas Wilayah Terdampak di Kendari
Berdasarkan laporan situasi dari posko komando BPBD Kota Kendari, banjir yang dipicu oleh intensitas hujan dengan durasi panjang ini telah berdampak pada sejumlah kelurahan. Data sementara menunjukkan lebih dari 300 unit rumah mengalami kerusakan dan terendam, dengan fokus kerawanan di kawasan yang memiliki sistem drainase terbatas dan berdekatan dengan aliran sungai. Kronologi kejadian dimulai dengan meluapnya beberapa anak sungai yang mengalir di wilayah perkotaan, diikuti dengan ketidakmampuan saluran drainase utama menampung debit air yang meningkat secara drastis.
Korban jiwa dalam peristiwa ini adalah seorang anak berusia 10 tahun yang menjadi korban arus banjir saat berupaya menyelamatkan diri dari rumahnya yang mulai tergenang. Kejadian ini menyoroti kerentanan kelompok usia tertentu dalam situasi bencana hidrometeorologi di wilayah perkotaan. Selain korban jiwa, dampak lain yang dilaporkan meliputi:
- Rusaknya sejumlah infrastruktur jalan lingkungan dan jembatan penghubung antar-RW.
- Gangguan aktivitas sosial-ekonomi di sentra perdagangan lokal.
- Potensi krisis kesehatan lingkungan akibat genangan air yang berkepanjangan.
Koordinasi Penanganan dan Status Darurat oleh Pemerintah Daerah
Menanggapi kondisi darurat ini, Wali Kota Kendari telah mengeluarkan keputusan resmi penetapan status siaga darurat banjir untuk periode tertentu. Langkah ini diikuti dengan pengaktifan posko komando terpadu di tingkat kelurahan terdampak untuk mempercepat koordinasi respons. Tim gabungan yang terdiri dari unsur BPBD, Damkar, Satpol PP, serta dukungan personel TNI dan Polri telah dikerahkan dengan tugas utama meliputi operasi evakuasi warga, pemompaan air dari lokasi permukiman, dan pendistribusian bantuan logistik dasar.
Pemerintah daerah juga telah menyiapkan beberapa titik lokasi pengungsian darurat dengan fasilitas dasar di wilayah yang aman dari genangan. Warga di wilayah rawan terdampak diimbau secara resmi untuk segera mengungsi ke lokasi yang telah ditetapkan guna menghindari risiko korban jiwa tambahan. Koordinasi juga telah dilakukan dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kendari untuk memantau perkembangan cuaca ekstrem.
BMKG memberikan analisis bahwa anomali cuaca di sekitar perairan dan daratan Kendari masih berpotensi memicu hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa ancaman banjir susulan atau genangan yang berkepanjangan masih sangat mungkin terjadi, sehingga kesiapsiagaan seluruh perangkat daerah dan masyarakat perlu tetap dijaga pada tingkat maksimal.
Sebagai catatan strategis untuk Pemerintah Kota Kendari dan pemerintah daerah lainnya di Sulawesi Tenggara, peristiwa ini menggarisbawahi urgensi peninjauan ulang dan penataan sistem drainase perkotaan yang berkelanjutan, khususnya di kawasan permukiman padat. Rekomendasi jangka pendek mencakup percepatan normalisasi sungai dan saluran pembuangan, sementara rekomendasi jangka menengah-panjang adalah integrasi data kerawanan banjir ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan penguatan sistem peringatan dini berbasis komunitas di setiap kelurahan rawan bencana.